Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Public Safety And Emergencies

Pabrik Radioaktif Banten Resahkan Warga: Tak Ada Penjelasan!

badge-check


					Pabrik Radioaktif Banten Resahkan Warga: Tak Ada Penjelasan! Perbesar


Warga yang tinggal di sekitar pabrik peleburan limbah metal, yang menjadi pusat ditemukannya radiasi radioaktif Sesium-137 di Banten, kini hidup dalam bayang-bayang kecemasan. Mereka mengaku belum mendapatkan penjelasan resmi dari pihak berwenang mengenai insiden ini, termasuk potensi dampak kesehatan akibat paparan radiasi.

Menanggapi situasi ini, para pengamat nuklir mendesak pihak berwenang untuk segera membuka pos pengaduan masyarakat sebagai bagian dari prosedur pengamanan. Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Radiasi Cs-137 yang dibentuk pemerintah menyatakan masih mempertimbangkan usulan tersebut.

Pemerintah sendiri telah menetapkan Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande sebagai area Kejadian Khusus Cemaran Radiasi Cesium-137. Penetapan ini menyusul insiden ditemukannya udang beku asal Indonesia yang terkontaminasi radioaktif saat diekspor ke Amerika Serikat.

Sesium-137 (Cs-137) adalah unsur radioaktif buatan manusia yang tidak ditemukan secara alami. Paparan radiasinya, pada tingkat tertentu, dapat memicu berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari kanker hingga kematian. Unsur ini merupakan produk sampingan dari reaktor nuklir yang memancarkan radiasi beta dan gamma dengan waktu paruh hingga 30 tahun. Cs-137 mudah larut dalam air, tanah, tumbuhan, hewan, dan bahkan manusia. Meskipun demikian, dalam kondisi terkendali, Cs-137 memiliki manfaat dalam bidang medis, industri, dan penelitian.

Sudah hampir sebulan lamanya sebagian warga Kampung Combrang, RT 04/02, Desa Nambo Udik, Kecamatan Cikande, Serang, Banten, hidup dalam ketidakpastian. Kampung yang dihuni sekitar 90 keluarga, termasuk 20 lansia dan 50 anak-anak ini, berlokasi sangat dekat dengan sumber radiasi radioaktif, yaitu PT. Peter Metal Technology (PT. PMT), hanya berjarak kurang dari 200 meter.

PT. PMT sendiri telah disegel oleh pihak berwenang sejak pekan kedua September lalu. Dari hasil pemeriksaan tim gabungan pemerintah, ditemukan tingkat radiasi Cs-137 di pabrik peleburan metal ini mencapai 0,3-0,5 mikrosievert per jam, jauh melebihi ambang batas normal yaitu 0,1 mikrosievert per jam.

Penyegelan PT. PMT ini bermula dari temuan Customs Border Protection (CBP) Amerika Serikat terhadap udang beku asal Indonesia yang mengandung Cs-137. Pabrik pengolahan udang tersebut berlokasi sekitar tiga kilometer dari PT. PMT.

Sejak penyegelan PT. PMT, warga Kampung Combrang setiap hari menyaksikan petugas yang mengenakan pakaian pelindung khusus anti-radiasi lalu lalang di sekitar kampung mereka. Namun, hingga saat ini, belum ada penjelasan resmi dari pemerintah daerah maupun pusat mengenai situasi yang terjadi, termasuk potensi risiko bahaya paparan radiasi terhadap kesehatan mereka.

“Setiap hari ada petugas pakai APD lengkap lalu-lalang di depan rumah,” ujar Arief (36), tokoh masyarakat Kampung Combrang, pada hari Sabtu (04/10) lalu. “Mereka pakai masker, pakai sarung tangan saat datang ke kampung dan bersalaman [dengan warga], bikin ketakutan, tapi enggak ada yang menjelaskan [secara resmi],” lanjutnya.

Arief menambahkan, dalam percakapan tidak resmi, seorang petugas sempat menyampaikan bahwa tingkat radiasi udara di kampung tersebut berada “di atas normal.” Ia berharap pemerintah segera mengadakan sosialisasi dan menyediakan pemeriksaan medis gratis bagi seluruh warga.

“Kami enggak menolak investasi, tapi kami juga butuh perlindungan. Jangan sampai kami yang tinggal paling dekat, malah enggak tahu apa-apa,” tegasnya.

Karsih, mantan pekerja PT PMT yang juga merupakan warga Kampung Combrang, mengungkapkan bahwa operasional pabrik sebenarnya sudah dihentikan sejak akhir Juli 2023, jauh sebelum disegel pemerintah.

“Tiba-tiba berhenti saja. Katanya bangkrut. Waktu itu saya enggak tahu apa-apa, tahunya belakangan baru ramai soal radiasi,” tutur perempuan berusia 42 tahun tersebut.

Karsih juga mengaku belum pernah menjalani pemeriksaan kesehatan sejak isu radiasi Cs-137 mencuat. “Belum, belum diperiksa. Katanya ada yang diperiksa, tapi cuma beberapa orang bagian peleburan. Saya khawatir juga, soalnya tiap hari dulu masuk kerja, tapi enggak tahu apakah kena dampaknya atau enggak,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa banyak pekerja lain yang sudah tidak bisa dihubungi. Menurutnya, pabrik peleburan limbah besi menjadi baja ringan di Kawasan Industri Modern Cikande ini dioperasikan oleh sejumlah Tenaga Kerja Asing (TKA) asal China. “Enggak ada yang ngasih tahu hasilnya [penyelidikannya] kayak gimana. Jadi ya tambah takut saja,” keluhnya.

Warga Sempat Melakukan Protes

Arief mengungkapkan bahwa warga sebenarnya sudah lama mengeluhkan aktivitas pabrik tersebut. Bahkan sebelum kasus radiasi mencuat, mereka sering terganggu oleh getaran dan asap dari proses peleburan.

“Dulu sebelum ada [temuan radioaktif] ini juga kami sudah sering protes. Rumah bergetar kayak gempa, malam-malam keluar asap sampai ibu saya batuk-batuk,” ujarnya. “Sekarang tambah takut, karena katanya ada radiasi. Tapi sampai sekarang belum ada pemeriksaan kesehatan, belum ada penjelasan dari pemerintah.”

Keluhan Kesehatan Mulai Bermunculan

Beberapa warga bahkan mulai mengeluhkan kondisi kesehatan mereka, seperti batuk dan gatal-gatal, ungkap Arief. Namun, hingga saat ini, belum ada pemeriksaan medis menyeluruh yang dilakukan oleh pemerintah.

Meskipun BBC News Indonesia belum dapat memverifikasi kaitan antara gejala kesehatan ini dengan isu radiasi, warga berharap mendapatkan kejelasan dan perlindungan dari negara di tengah situasi yang menakutkan ini.

“Kami dengar katanya pemerintah melindungi warga. Tapi perlindungannya seperti apa? Sosialisasi saja belum pernah,” kata Arief dengan nada kecewa.

Radiasi Cs-137 Terdeteksi Menyebar

Sumber radiasi Cs-137 tidak hanya ditemukan di PT PMT, tetapi juga di wilayah lain, seperti lapak limbah besi di Kampung Sadang, Desa Sukatani, Kecamatan Cikande. Lapak yang berjarak tiga kilometer dari PT PMT ini telah diberi garis peringatan radioaktif.

Suheni (68), seorang petani di Kampung Sandang, bekerja di sekitar lapak limbah besi tersebut. Hingga saat diwawancarai pada hari Sabtu (04/10) lalu, ia mengaku belum pernah mendapatkan sosialisasi apa pun terkait kasus temuan radiasi ini. “Belum ada [pemeriksaan kesehatan dan sosialisasi],” ungkapnya.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, terdapat sejumlah plang peringatan bahaya radiasi dan lambang peringatan radioaktif di sekitar PT. PMT. Plang peringatan serupa juga tersebar di titik-titik perkampungan warga sekitar kawasan industri, seperti di Kampung Sadang, Desa Sukatani, dan Kampung Kedung Laban, Desa Kibin di Kecamatan Cikande. Kedua lokasi tersebut merupakan tempat pengepul besi bekas.

Sementara itu, pabrik pengemasan udang yang menjadi titik awal terungkapnya kasus ini dilaporkan sudah beroperasi secara normal.

Kejadian Khusus Cemaran Radiasi Cesium-137

PT. PMT dan perusahaan udang tersebut berlokasi di Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande, Serang, Banten. Kawasan industri yang dibangun pada tahun 1991 ini menampung sekitar 300 perusahaan, termasuk industri multinasional yang bergerak di bidang pangan. Pemerintah telah menetapkan kawasan industri seluas 3.175 hektare ini sebagai area Kejadian Khusus Cemaran Radiasi Cesium-137.

PT. PMT dan pengelola KIM Cikande dikabarkan akan menghadapi gugatan dari pemerintah. Namun, hingga saat ini, kedua pihak korporasi belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait langkah hukum tersebut.

Selain itu, pemerintah telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Radiasi Cs-137 yang terdiri dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Komando Brimob Polri (KBRN). Menteri Koordinator bidang Pangan, Zulkifli Hasan, ditunjuk sebagai ketua satgas.

Peneliti BRIN Mendorong Pembukaan Posko Informasi

Peneliti senior nuklir di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Profesor Djarot Sulistio, menyebut kurangnya komunikasi dengan warga sebagai “masalah klasik”. Menurutnya, tidak banyak penyelidik dari kalangan ilmuwan yang mampu berkomunikasi secara sederhana dengan masyarakat.

“Saya kira memang perlu orang-orang yang menjelaskan secara bahasa sederhana, tetapi tidak salah. Tidak melebih-lebihkan, tidak mengurangi makna yang ada,” katanya.

Mantan Kepala Bapeten ini mengusulkan pemerintah membuka posko komunikasi yang dapat memberikan informasi yang jelas dan akurat kepada masyarakat. Ia juga berpendapat bahwa warga di Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande belum perlu dievakuasi.

“Karena kalau selama itu mampu segera dilokalisir, maka otomatis… asal masyarakat setempat tidak mendekati sumber-sumber atau hotspot yang sudah ditetapkan oleh petugas,” jelasnya.

Bagaimana Respons Pemerintah?

Wakil Bupati Serang, Najib Hamas, menyatakan bahwa penanganan radiasi Cs-137 sepenuhnya berada di tangan pemerintah pusat. Namun, terkait dengan isu kesehatan masyarakat, pemerintah daerah turut terlibat.

“Kami Pemkab diberi tanggung jawab adalah masyarakat yang kemungkinan terindikasi [masalah] kesehatan, maka menjadi tanggung jawab pemerintah Kabupaten Serang untuk melakukan pengobatan, perawatan sesuai dengan rekomendasi dari Bapeten,” katanya.

Pihak Bapeten juga menegaskan bahwa seluruh penanganan dan pengambilan keputusan saat ini berada di bawah kendali Satgas Penanganan Radiasi Cs-137.

Ketua Divisi Diplomasi dan Komunikasi Publik Satgas Penanganan Radiasi Cs-137, Bara Krishna Hasibuan, mengklaim bahwa pemeriksaan terhadap warga sudah dilakukan. “Sudah ada, cuma kita memang nggak terus terang selama ini. Kita nggak mau mereka panik,” ungkapnya.

Bara Krishna menjelaskan bahwa hingga saat ini, sudah dilakukan pemeriksaan terhadap sekitar 1.500 pekerja di KIM Cikande. Sembilan orang dinyatakan positif terpapar Cs-137 dan saat ini sedang menjalani perawatan dan pemantauan di RS Fatmawati.

“[Pil] khusus dari Singapura, sudah dipesan dari Kementerian Kesehatan,” tambahnya. Pil yang dimaksud adalah Prussian Blue, yang berfungsi mengikat cemaran zat radioaktif Cs-137 dalam tubuh dan dikeluarkan melalui feses.

Terkait usulan pembukaan posko komunikasi dan keluhan kesehatan, Bara Krishna menyatakan, “setelah kita kaji, kemungkinan itu” akan dilakukan.

Ia melanjutkan bahwa Satgas telah mengidentifikasi 15 lokasi lapak besi tua yang diduga memiliki material mengandung Cs-137. “Jadi nanti begini. Jadi itu semua [material mengandung Cs-137] kita kumpulkan. Kita sudah bersihkan dua lokasi [lapak],” katanya.

Ia juga mengatakan bahwa material besi bekas yang berada di lapak-lapak ini kemungkinan berasal dari limbah buangan PT PMT. Material tersebut dikumpulkan sementara di gedung PT. PMT yang sudah tidak beroperasi.

Bara Krishna menambahkan bahwa tim kepolisian masih “mengejar” pemilik PT PMT yang saat ini berada di China untuk dimintai keterangan.

Dari Mana Asal-Usul Radiasi Cs-137 di Banten?

Pemerintah Indonesia mengklaim bahwa sumber utama radiasi berasal dari “bijih besi, skrup, dan barang sejenis” yang diimpor PT PMT dari Filipina. Bahan-bahan ini kemudian dilebur dengan cara pembakaran. Asap dari proses peleburan ini mencemari lingkungan, termasuk pabrik udang yang berjarak tiga kilometer. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya unsur radioaktif pada blower dan ventilator pabrik, meskipun dengan konsentrasi rendah.

Temuan sumber radiasi dari barang-barang di lapak besi tua semakin menguatkan dugaan bahwa material tersebut berasal dari limbah buangan PT PMT.

Meskipun berbahaya, Cs-137 yang terkendali umumnya dimanfaatkan dalam berbagai industri. Di sektor medis, zat radioaktif ini digunakan untuk terapi kanker (radioterapi). Dalam industri, Cs-137 dimanfaatkan untuk mengukur ketebalan logam, kelembapan tanah, serta kalibrasi alat deteksi radiasi. Di bidang penelitian, zat radioaktif hasil reaksi nuklir ini berguna untuk melacak pergerakan sedimen, air, atau pencemaran lingkungan.

Namun, muncul pertanyaan, apakah di KIM Cikande ada indikasi Cs-137 bocor dari peralatan industri di sana? “Tim Bapetan lagi cek itu,” jawab Ketua Divisi Diplomasi dan Komunikasi Publik Satgas Penanganan Radiasi Cs-137, Bara Krishna Hasibuan.

Belum lama ini, pemerintah Indonesia mengembalikan puluhan kontainer yang terkontaminasi radioaktif dari Filipina. Beberapa kontainer yang akan masuk ke Indonesia juga berisi besi bekas yang diduga mengandung radioaktif.

Pakar instalasi nuklir, Heryudo Kusumo, menduga bahwa bahan dasar pembuatan material ini berasal dari peralatan industri yang mengandung radioaktif di Filipina. “Saya menduga bahwa kontainer yang tercemar radioaktif tersebut berasal dari peralatan yang mengandung zat radioaktif, yang dilaporkan hilang di Filipina,” katanya.

Ia merujuk beberapa sumber pemberitaan, termasuk dari Institute Penelitian Nuklir Filipina yang mengumumkan peringatan kepada lapak besi tua tentang pencurian peralatan mengandung Cs-137. “Saya sampaikan tulisan tentang hal tersebut, yang telah saya kirimkan ke Bapeten untuk ditindaklanjuti,” tambah Heryudo.

Mengaktifkan Pemantauan Radioaktif

Peneliti senior nuklir dari BRIN, Profesor Djarot Sulistio, mendorong adanya evaluasi terhadap “seluruh struktur sistem pengawasan sumber radioaktif”. “Karena apa? Sumber radioaktif ini kan dipakai di mana-mana. Di pabrik baja, di pabrik kertas, di mana-mana. Dan keluar masuknya antar negara atau antar wilayah itu juga frekuensinya lumayan tinggi,” katanya.

Ia mengatakan, salah satu langkah pencegahan penyebaran radioaktif yang tak terasa oleh indera manusia adalah memasang alat pemantau radiasi. “Monitor di gerbang-gerbang strategis Indonesia maupun juga gerbang-gerbang di kawasan industri, maka otomatis kita mampu mendeteksi jalur-jalur transportasi sumber radioaktif tersebut,” tambah Prof Djarot.

Apa Itu Sesium-137, dan Dampaknya bagi Manusia?

Sesium-137 adalah zat radioaktif hasil sampingan dari fisi nuklir seperti bom nuklir, uji coba senjata nuklir, dan operasi tertentu reaktor nuklir. “Sesium-137 itu tidak berbentuk gas, tapi dia bisa berbentuk serpihan atau mungkin debu,” kata Prof Djarot.

Cs-137 mudah menyebar lewat udara, larut dalam air, dan menempel di tanah atau material lain. Zat radioaktif ini juga mudah terserap oleh tumbuhan, hewan, dan manusia.

Paparan Cs-137 dari luar tubuh manusia dapat menyebabkan luka bakar radiasi, sakit radiasi akut, bahkan kematian. Gejala dari sindrom radiasi akut yaitu mual, muntah, diare, pusing, dan pendarahan. Namun, hal ini sangat bergantung pada dosis radiasi yang diterima oleh tubuh.

Di sisi lain, ketika Cs-137 sudah masuk ke dalam tubuh melalui udara, air, dan makanan, maka akan mudah menempel pada otot. Radiasi gamma dan beta yang dipancarkan Cs-137 dari dalam tubuh dapat merusak sel dan DNA, sehingga menimbulkan risiko kanker.

Namun, sekali lagi, hal ini sangat tergantung pada jumlah dosis radiasi dan durasi paparan, serta faktor usia. Semakin tinggi dosis dan frekuensi paparan, maka risiko semakin besar.

“Sesium memang tidak bisa dihancurkan, tidak bisa dihilangkan. Karena yang bisa kita lakukan adalah memindahkan ke lokasi yang aman supaya dia meluruh. Karena dia waktu paruhnya, usia sampai itu sekitar 30 tahun,” tambah Prof Djarot.

Cara penanganannya adalah melalui dekontaminasi, yaitu menghapus partikel Cs-137 dari permukaan material. Namun, material atau cairan pembersih partikel tersebut harus disimpan di tempat yang aman. “Jadi harus dipindahkan ke lokasi yang aman, dia akan meluruh pelan-pelan sampai nanti dianggap aman,” katanya.

Sementara Cs-137 yang sudah masuk ke dalam tubuh, salah satunya dapat diobati dengan pil Prussian Blue.

Wartawan Muhammad Iqbal di Banten ikut berkontribusi dalam artikel ini.

Ringkasan

Warga di sekitar Kawasan Industri Modern (KIM) Cikande, Banten, khususnya dekat PT. Peter Metal Technology (PT. PMT), resah akibat temuan radiasi Sesium-137 (Cs-137) di pabrik peleburan limbah tersebut. Mereka mengeluhkan belum adanya penjelasan resmi atau pemeriksaan kesehatan menyeluruh dari pihak berwenang, meskipun sering melihat petugas berpakaian pelindung. Insiden ini terungkap setelah udang beku ekspor dari Indonesia terkontaminasi Cs-137, dan radiasi di PT. PMT ditemukan jauh di atas ambang normal.

Pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Penanganan Radiasi Cs-137 yang mengklaim telah memeriksa pekerja dan merawat sembilan orang yang positif terpapar. Sumber radiasi diduga berasal dari bijih besi atau skrup impor PT. PMT dari Filipina, kemungkinan dari peralatan industri yang mengandung radioaktif. Cs-137 sendiri adalah unsur radioaktif buatan manusia yang berbahaya jika terpapar, berisiko menyebabkan masalah kesehatan serius seperti kanker, namun juga memiliki manfaat terkendali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina

15 October 2025 - 18:51

Gempa 7,6 SR Guncang Filipina, Peringatan Tsunami hingga ke Indonesia

10 October 2025 - 13:26

Ponpes Al Khoziny Ambruk: Dasco Minta Polisi Usut, Mitigasi Digenjot

9 October 2025 - 18:14

Ancaman Bom di Kelapa Gading: Sekolah Internasional Jadi Target?

8 October 2025 - 17:10

KPK Periksa Kabiro Humas Kemnaker dalam Dugaan Korupsi Sertifikasi K3

7 October 2025 - 13:04

Trending on Public Safety And Emergencies