Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Nikel Volatil? Cek Rekomendasi Saham INCO

badge-check


					Nikel Volatil? Cek Rekomendasi Saham INCO Perbesar

Narapena – JAKARTA. PT Vale Indonesia Tbk (INCO), emiten pertambangan nikel terkemuka, diproyeksikan akan menghadapi berbagai tantangan signifikan dalam upaya meningkatkan kinerjanya pada semester II tahun 2025. Gelombang fluktuasi harga nikel global serta potensi peningkatan beban produksi menjadi aral yang dapat menekan margin keuntungan perusahaan.

Penurunan kinerja INCO sudah terlihat jelas pada semester I tahun 2025, di mana laba bersih perusahaan terkoreksi 32% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi US$ 25,2 juta. Senada, pendapatan INCO juga ikut menyusut 11% YoY menjadi US$ 426,7 juta, terutama dipicu oleh penurunan harga jual rata-rata (ASP) nikel matte sebesar 5% menjadi US$ 12.014 per ton. Lebih lanjut, Arief Machrus, Analis Ina Sekuritas, menyoroti anjloknya laba bersih INCO sebesar 89% YoY pada kuartal II 2025, yang hanya mencapai US$ 3,5 juta. Tekanan utama datang dari lonjakan beban pokok pendapatan sebesar 12% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ) akibat kenaikan biaya bahan bakar, meskipun di sisi lain, perusahaan berhasil menekan biaya operasional sebesar 3%.

Di tengah tekanan kinerja, PT Vale Indonesia mendapatkan angin segar pada tahun 2025 dengan persetujuan pemerintah untuk meningkatkan kuota bijih saprolit dalam Rencana Kerja dan Anggaran (RKAB). Peningkatan drastis dari 290.000 menjadi 2,2 juta ton metrik basah (wmt) ini secara signifikan akan memperluas potensi penjualan bijih perusahaan. Merespons hal tersebut, manajemen INCO merevisi asumsi untuk segmen bijih nikel guna mencerminkan kuota yang lebih tinggi, sekaligus memperbarui proyeksi harga jual rata-rata dan biaya. “Penyesuaian serupa juga dilakukan pada segmen nikel matte untuk memperhitungkan tren konsumsi bahan bakar aktual,” jelas Arief Machrus dalam risetnya pada 13 Agustus 2025.

Prospek pertumbuhan INCO ke depan akan semakin kokoh, didukung oleh percepatan proyek smelter Bahodopi dan Pomalaa yang kini berjalan lebih cepat dari jadwal. Smelter Bahodopi diperkirakan akan memulai produksi bijih nikel pada penghujung tahun 2025, sedangkan smelter Pomalaa ditargetkan beroperasi pada tahun 2026. Menurut Arief, sinergi antara proyek-proyek strategis ini, perluasan kuota produksi, peningkatan transparansi biaya, serta inisiatif efisiensi energi, diperkirakan akan menjadi pendorong utama penguatan profitabilitas perusahaan di semester kedua tahun 2025. Selain itu, INCO juga aktif mengembangkan ekspansi hilirisasi melalui proyek Pelindian Asam Bertekanan Tinggi (HPAL) yang ambisius, dengan tujuan memasok nikel tingkat baterai ke pasar kendaraan listrik (EV) dan penyimpanan energi yang terus berkembang pesat.

Dari sudut pandang analis pasar, Benny Kuriawan dari JP Morgan Sekuritas Indonesia mengungkapkan adanya premi harga signifikan untuk bijih saprolit berkadar tinggi (1,7% ke atas). Premi ini melonjak hingga lebih dari US$ 22 – US$ 25 per wmt pada kuartal kedua dan diproyeksikan tetap tinggi di kuartal ketiga. Secara spesifik, Benny memperkirakan bijih saprolit INCO sebanyak 2,2 juta wmt dari blok Bahodopi berpotensi dihargai US$ 55 per wmt, melampaui estimasi awal JP Morgan yang sebesar US$ 44 – US$ 46 per wmt, sebagaimana disampaikannya dalam riset pada 17 September 2025. Kendati demikian, Benny mengingatkan bahwa meskipun kondisi harga bijih saprolit diperkirakan tetap kuat, mayoritas penjualan bijih INCO kepada mitra HPAL justru akan didominasi oleh bijih limonit. “Tidak seperti saprolit, bijih limonit tidak mendapatkan harga premium karena pasokannya masih melimpah di pasar,” tambahnya. JP Morgan juga telah merevisi proyeksi harga jangka panjang untuk saprolit INCO menjadi US$ 42 per wmt (naik dari US$ 38 per wmt), namun mempertahankan harga limonit di US$ 16 per wmt. Selain itu, tingkat pembayaran nikel matte INCO disesuaikan menjadi 82% (dari sebelumnya 78%) sejalan dengan kontrak terbaru.

Menanggapi potensi kinerja INCO, Ekky Topan, Investment Analyst Infovesta Utama, menyoroti pertumbuhan positif produksi nikel matte secara kuartalan hingga kuartal II 2025. Persetujuan revisi RKAB yang membuka pintu bagi penjualan bijih saprolit dari Blok Bahodopi menjadi katalisator tambahan yang menjanjikan. “Hal ini membuka potensi peningkatan kontribusi pendapatan mulai akhir tahun, terutama jika realisasi harga jual tetap stabil,” ujar Ekky. Kendati demikian, ia mengingatkan akan sejumlah tantangan krusial yang perlu diwaspadai. Pertama, fluktuasi harga nikel global yang sangat rentan terhadap dinamika ekonomi Tiongkok dan permintaan baterai kendaraan listrik (EV). Kedua, potensi kenaikan beban produksi dan logistik yang dapat menekan margin jika tidak dikelola dengan cermat. Ketiga, risiko penundaan proyek ekspansi atau HPAL akibat kebutuhan pembiayaan yang sangat besar, mengingat INCO tengah menyiapkan skema pendanaan senilai US$ 1 miliar – US$ 1,2 miliar untuk periode 2026–2027. Hingga akhir tahun, Ekky menyarankan untuk mencermati perkembangan proyek hilirisasi, stabilitas harga nikel, serta komitmen dari mitra strategis utama seperti Huayou dan GEM China. “Arah kebijakan pemerintah di sektor pertambangan dan hilirisasi juga akan menjadi kunci, mengingat dampaknya terhadap keekonomian proyek jangka panjang INCO,” pungkasnya kepada Kontan, Selasa (30/9/2025).

Mengakhiri analisanya, Benny Kuriawan memproyeksikan pendapatan INCO pada tahun 2025 akan mencapai US$ 951 juta dengan laba bersih sekitar US$ 76 juta. Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan tahun 2024, di mana INCO mencatat pendapatan US$ 950,38 juta dan laba bersih US$ 57,76 juta. Dengan prospek yang beragam ini, para analis pun memberikan rekomendasi yang bervariasi. Arief Machrus dan Ekky Topan kompak merekomendasikan buy saham INCO dengan target harga masing-masing Rp 4.650 dan Rp 5.000 per saham. Sebaliknya, Benny Kuriawan cenderung merekomendasikan netral untuk saham INCO, dengan target harga Rp 4.100 per saham.

Ringkasan

PT Vale Indonesia Tbk (INCO) menghadapi tantangan kinerja pada semester II 2025, ditandai dengan penurunan laba bersih 32% di semester I 2025 dan 89% di kuartal II 2025 akibat fluktuasi harga nikel dan kenaikan beban produksi. Namun, INCO mendapat angin segar dari persetujuan peningkatan kuota bijih saprolit menjadi 2,2 juta ton metrik basah, memperluas potensi penjualan. Percepatan proyek smelter Bahodopi dan Pomalaa, yang akan beroperasi masing-masing akhir 2025 dan 2026, juga diharapkan menjadi pendorong kinerja.

Proyeksi pertumbuhan INCO semakin kokoh didukung sinergi proyek strategis dan pengembangan hilirisasi melalui HPAL untuk nikel tingkat baterai. Meskipun demikian, volatilitas harga nikel global, potensi kenaikan beban produksi, dan risiko pendanaan proyek ekspansi besar masih menjadi tantangan utama yang perlu diwaspadai. Analis pasar memberikan rekomendasi beragam: ‘buy’ dari Ina Sekuritas dan Infovesta Utama, serta ‘netral’ dari JP Morgan Sekuritas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance