Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Merger Garuda-Pelita Air Dikritik, Ini Tanggapan Danantara!

badge-check


					Merger Garuda-Pelita Air Dikritik, Ini Tanggapan Danantara! Perbesar

Rencana penggabungan (merger) maskapai Garuda Indonesia dengan Pelita Air, yang sebelumnya menuai kritik dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), ditanggapi langsung oleh Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara). Dony menyatakan pihaknya menghargai setiap pendapat yang diutarakan mengenai rencana tersebut.

Menurut Dony, segala masukan merupakan hal yang positif dalam rangka penyempurnaan dan penyehatan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). “Saya rasa bukan tidak setuju, tentu ada banyak pendapat, kami menghargai setiap pendapat, baik itu dari masyarakat dan sebagainya,” kata Dony saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, pada Rabu, 24 September 2025.

Ia menjelaskan bahwa dalam peta jalan BUMN ke depan, pemerintah memiliki visi untuk mengurangi jumlah perusahaan pelat merah yang beroperasi dalam satu industri. Oleh karena itu, langkah penggabungan usaha atau merger semacam ini tidak hanya akan diterapkan pada industri penerbangan.

“Nanti tidak hanya di airlines, tapi kan juga nanti karya akan di-merger juga, insurance company juga begitu, kan kita banyak punya perusahaan yang sejenis, tapi skalanya tidak besar-besar,” tambahnya.

Dony mengemukakan bahwa nantinya, maskapai-maskapai pelat merah akan disatukan. Konsep serupa juga diterapkan pada industri minyak dan gas yang akan berintegrasi di bawah naungan PT Pertamina (Persero). “Nanti industri airlines tentu harus menjadi satu industri airlines. Pertamina nanti menjadi oil and gas company. Jadi, sebenarnya kan roadmap yang dibangun itu demikian, tetapi di dalam perjalanannya, tentu ada pro dan kontra,” jelas Dony.

Sebelumnya, rencana merger ini mendapatkan kritik tajam dari anggota Komisi VI DPR, Mufti Anam. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap Garuda Indonesia dan menjadikan Pelita Air sebagai pilihan utama. “Soal Pelita Air yang mau digabungkan dengan Garuda, saya sangat tidak setuju. Ketika terdesak, ketika saya sudah tidak percaya lagi ke Garuda, kemarin saya naik Pelita Air, tepat waktu juga ternyata, luar biasa, bersih, pelayanan oke, makanan oke,” ujar Mufti dalam rapat bersama Garuda di Senayan, Senin, 22 September 2025.

Mufti Anam secara tegas menolak manajemen Pelita Air menjadi rusak akibat digabungkan dengan Garuda Indonesia yang dinilai memiliki budaya kerja yang “amburadul”. “Saya tidak mau Garuda untuk kemudian membajak Pelita Air yang sudah bagus, jadi maskapai kebanggaan kita, kemudian akhirnya rusak, gara-gara kena virus budaya kerja di Garuda Indonesia yang amburadul,” tegas Mufti.

Di sisi lain, Rosan Roeslani, Chief Executive Officer (CEO) Badan Pengelola Investasi Danantara, sebelumnya menyatakan bahwa Danantara masih mengkaji secara mendalam rencana merger antara Garuda Indonesia dan Pelita Air. “Intinya kan untuk supaya lebih efisien, lebih meningkatkan produktivitas, dan juga mengoptimalkan aset-aset yang ada, baik dari segi jam terbangnya dan part pesawat dan lain-lain. Lagi dievaluasi semua,” kata Rosan di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 16 September 2025.

Menanggapi hal tersebut, Menteri BUMN kala itu, Erick Thohir, mengungkapkan bahwa kementeriannya akan mengikuti kebijakan yang diputuskan oleh Danantara terkait merger Garuda dan Pelita Air. Menurut Erick, peran Kementerian BUMN hanya sebatas memberikan persetujuan akhir dari proses tersebut. “Kalau kami kan cuma approval ujungnya saja. Proses kajian itu ada di Danantara. Kami prinsipnya mendukung apa yang akan dilakukan Danantara,” kata Erick Thohir seusai rapat bersama Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin, 15 September 2025.

Sebagai informasi, Pelita Air merupakan anak usaha dari PT Pertamina (Persero). Rencana penggabungan Pelita Air dengan Garuda Indonesia ini sebelumnya telah diungkapkan oleh Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius. Ia menyatakan bahwa merger ini adalah bagian dari strategi Pertamina untuk lebih fokus dalam mengembangkan bisnis inti di sektor minyak, gas, dan energi terbarukan. “Kami selanjutnya akan fokus pada core bisnis Pertamina. Beberapa usaha akan kami spin off dan mungkin di bawah koordinasi dari Danantara,” kata Simon saat Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis, 11 September 2025.

Manajemen Garuda Indonesia sendiri membenarkan adanya penjajakan merger dengan Pelita Air. Menurut mereka, penggabungan kedua maskapai ini diyakini akan mengoptimalkan berbagai peluang bisnis dan memperkuat ekosistem industri transportasi udara secara keseluruhan.

Eka Yudha Saputra, Anastasya Lavenia Yudi, dan Alif Ilham Fajriadi berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

Pilihan Editor: Beban Keuangan Garuda Jika Membeli Boeing Donald Trump

Ringkasan

Rencana penggabungan maskapai Garuda Indonesia dan Pelita Air telah menuai kritik, khususnya dari anggota DPR Mufti Anam yang khawatir kualitas Pelita Air akan menurun. Menanggapi hal ini, Dony Oskaria dari Danantara menghargai semua masukan dan menjelaskan bahwa merger ini sejalan dengan peta jalan BUMN. Tujuannya adalah mengurangi jumlah perusahaan sejenis dan meningkatkan efisiensi di industri penerbangan.

Danantara, melalui CEO Rosan Roeslani, masih mengkaji secara mendalam rencana merger ini untuk optimasi aset dan peningkatan produktivitas. Kementerian BUMN menyatakan akan mengikuti keputusan Danantara, dengan peran kementerian sebatas persetujuan akhir. Direktur Utama Pertamina mengungkapkan bahwa merger Pelita Air ini memungkinkan Pertamina untuk lebih fokus pada bisnis inti minyak, gas, dan energi terbarukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance