Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Kemenkeu Balas World Bank: Proyeksi Ekonomi Melenceng!

badge-check


					Kemenkeu Balas World Bank: Proyeksi Ekonomi Melenceng! Perbesar

JAKARTA – Bank Dunia (World Bank) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun ini menjadi 4,8 persen, dari sebelumnya 4,7 persen. Sementara itu, proyeksi untuk tahun 2026 tetap stabil di angka 4,8 persen.

Revisi positif ini mencerminkan keyakinan terhadap efektivitas kebijakan fiskal pemerintah yang terarah, terutama dalam mendorong permintaan di sektor-sektor krusial seperti pangan, transportasi, dan energi. Dukungan terhadap konsumsi rumah tangga melalui program bantuan sosial juga menjadi faktor penting.

Lebih lanjut, Bank Dunia meyakini bahwa investasi akan mendapatkan dorongan kuat dari berbagai inisiatif pemerintah. Di antaranya adalah Danantara, pelonggaran moneter yang bertujuan untuk meningkatkan penyaluran kredit swasta, serta peningkatan arus masuk investasi asing langsung (FDI). Upaya hilirisasi, deregulasi, dan reformasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) juga dipandang sebagai katalis positif.

Kenaikan permintaan domestik diharapkan mampu menyeimbangkan dampak pelemahan ekspor bersih, yang dipicu oleh penurunan harga komoditas dan perlambatan pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Menanggapi proyeksi tersebut, Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Febrio Kacaribu, menyampaikan bahwa hal ini merupakan masukan yang positif. Namun, ia menekankan bahwa proyeksi tersebut belum sepenuhnya mencerminkan keseluruhan strategi dan kebijakan pemerintah.

“World Bank kan nggak tahu tentang bisnis kita. Jadi, ya, sebagai *outsider* melihat itu bagus, kita dapat *feedback*. Tapi, seperti saya jelaskan, ada stimulus 1, 2, 3, dan mesin-mesin pertumbuhan,” ujar Febrio di Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Kamis (9/10).

Menurutnya, proyeksi Bank Dunia belum memperhitungkan secara penuh kebijakan fiskal ekspansif yang telah disiapkan pemerintah, termasuk injeksi likuiditas sebesar Rp 200 triliun ke bank-bank Himbara. Langkah ini bertujuan untuk mendorong pertumbuhan kredit dan konsumsi.

Febrio menegaskan bahwa berbagai langkah stimulus, seperti penguatan belanja sosial, subsidi sektor pangan dan energi, serta insentif investasi, merupakan mesin pertumbuhan yang akan mendorong ekonomi Indonesia tumbuh lebih tinggi dibandingkan proyeksi lembaga internasional.

“Memang World Bank tahu tentang (injeksi likuiditas ke bank-bank Himbara) Rp 200 triliun? Kan nggak. Yang kita hitung dengan *policy measures* yang dilakukan tentu sangat berbeda,” tegasnya.

Lebih lanjut, Febrio menjelaskan bahwa proyeksi dari lembaga internasional seperti World Bank, OECD, IMF, dan ADB bukan sekadar studi akademik, melainkan juga mencerminkan kepentingan dan kebutuhan investor yang mereka wakili. Dengan demikian, proyeksi tersebut merefleksikan minat investasi dari berbagai negara.

Febrio juga mengingatkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh lembaga-lembaga internasional seringkali meleset dibandingkan dengan realisasi. “World Bank itu kalau kalian lihat juga beberapa tahun terakhir kan selalu *miss*. Ya sudahlah bagus itu sebagai *feedback*. Kita senang banyak orang yang ngelihatin ekonomi Indonesia. Berarti mereka tertarik,” ungkap Febrio.

Oleh karena itu, Kemenkeu tetap optimistis bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,2 persen pada tahun 2025 dan 5,4 persen pada tahun 2026. “Bahkan kita melihat peluang akan lebih cepat lagi,” tegasnya.

Senada dengan Kemenkeu, Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus menguat dalam beberapa kuartal mendatang. Hal ini didorong oleh kombinasi kebijakan ekspansif pemerintah dan pelonggaran moneter yang diterapkan oleh Bank Indonesia (BI).

Andry menjelaskan bahwa penempatan dana sebesar Rp 200 triliun oleh Kemenkeu ke dalam sistem perbankan, bersamaan dengan lima kali penurunan suku bunga BI secara berturut-turut, akan meningkatkan likuiditas dan pertumbuhan kredit. “Yang pada akhirnya mendorong konsumsi rumah tangga dan aktivitas investasi, terutama pada kuartal IV 2025,” jelas Andry kepada Jawa Pos.

Dengan mempertimbangkan dinamika tersebut, Andry Asmoro tetap mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,0 persen pada tahun 2025 dan 5,2 persen pada tahun 2026. “Mencerminkan dampak berkelanjutan dari kebijakan yang akomodatif dan pemulihan yang stabil pada komponen permintaan domestik,” terang alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia tahun 1995 itu. (han)

Ringkasan

Bank Dunia (World Bank) merevisi naik proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia untuk tahun 2025 menjadi 4,8 persen, dari sebelumnya 4,7 persen, dan mempertahankan angka 4,8 persen untuk tahun 2026. Revisi positif ini didasari keyakinan terhadap efektivitas kebijakan fiskal pemerintah yang terarah, dukungan konsumsi rumah tangga, dan dorongan investasi dari berbagai inisiatif. Kenaikan permintaan domestik diharapkan mampu menyeimbangkan dampak pelemahan ekspor bersih.

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menanggapi proyeksi tersebut sebagai masukan positif, namun menekankan bahwa Bank Dunia belum sepenuhnya mencerminkan seluruh strategi dan kebijakan pemerintah. Kemenkeu menegaskan kebijakan fiskal ekspansif, seperti injeksi likuiditas Rp 200 triliun ke bank Himbara dan berbagai stimulus lainnya, akan mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia lebih tinggi. Oleh karena itu, Kemenkeu optimistis pertumbuhan ekonomi dapat mencapai 5,2 persen pada 2025 dan 5,4 persen pada 2026.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance