Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Hotel-hotel di Cikarang Berencana Tutup meski Jumlah Wisatawan Meningkat

badge-check


					Hotel-hotel di Cikarang Berencana Tutup meski Jumlah Wisatawan Meningkat Perbesar

Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia atau PHRI mencatat sebagian hotel di Cikarang, Jawa Barat, menghentikan operasional pada Agustus. Padahal jumlah wisatawan dalam negeri maupun asing meningkat.

Badan Pusat Statistik atau BPS mencatat tingkat penghunian kamar hotel susut 1,55 poin secara bulanan dan 3,23 poin secara tahunan menjadi 36,89% pada Agustus. Padahal, menurut Ketua Umum PHRI Haryadi Sukamdani, okupansi biasanya meningkat pada Semester II atau Juli – Desember.

Penurunan okupansi terjadi ketika jumlah wisatawan meningkat. Jumlah kunjungan turis dalam negeri naik 19,71% secara tahunan alias year on year (yoy) menjadi 807,55 juta perjalanan. Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur berkontribusi 47%.

Jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia juga mencapai 10,03 juta selama Januari – Agustus. Kementerian Pariwisata atau Kemenpar optimistis target 14,5 juta – 15 juta sepanjang tahun ini bisa tercapai.

“Kami menduga (penurunan okupansi hotel) ini dipengaruhi daya beli yang sangat besar,” kata Haryadi di Gedung Kementerian Pariwisata, Senin (6/10).

Imbas penurunan okupansi pada Agustus, sebagian hotel di Cikarang menghentikan operasional. “Perlu diingat, Cikarang lokasinya sangat dekat dari Jakarta dan merupakan kawasan industri,” ia menambahkan.

Haryadi menyampaikan penyusutan okupansi hotel di Cikarang membuat sebagian pengusaha di sektor ini berencana gulung tikar dan menjual aset. Sebab, ia mendapatkan informasi bahwa pengusaha manufaktur juga mengurangi biaya perjalanan selama Januari – Agustus.

Berdasarkan data BPS, tingkat okupansi hotel berbintang di Jawa Barat susut hampir 3,77 poin secara bulanan menjadi 45,75%. Tingkat hunian hotel non-bintang juga turun hampir satu poin menjadi 21,76%.

Secara keseluruhan, tingkat okupansi hotel berbintang 47,26% selama Januari – Agustus dan non-bintang 24,75%. Hanya satu provinsi yang memiliki okupansi di atas 60% pada Agustus, yakni Bali 69,54%.

PHRI menargetkan okupansi sepanjang tahun ini sama dengan 2024 yakni 52,63% untuk hotel berbintang dan 26,67% untuk hotel non-bintang.

Haryadi optimistis okupansi hotel melonjak pada kuartal terakhir atau saat musim libur Natal dan Tahun Baru. Namun lonjakan ini diperkirakan terbatas di kawasan pariwisata populer, seperti Bali, Yogyakarta, Solo, dan Bandung.

“Kalau daerahnya tidak menjadi top of mind destinasi wisata masyarakat, kenaikan okupansi hotel tidak begitu besar,” ujar dia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance