Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Harga Emas Rekor Tertinggi: Saatnya Investasi Saham Tambang Emas?

badge-check


					Harga Emas Rekor Tertinggi: Saatnya Investasi Saham Tambang Emas? Perbesar

Narapena JAKARTA. Gelombang kenaikan harga emas global yang tak henti memecahkan rekor tertinggi telah menciptakan momentum luar biasa, bertindak sebagai katalisator kuat bagi emiten tambang emas di Indonesia. Sektor ini kini dipandang sedang menapak fase pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan.

Kenaikan fantastis ini terlihat jelas pada Senin (13/10), ketika harga emas dunia untuk pertama kalinya melampaui level US$ 4.100 per ons troi. Pencapaian rekor tertinggi baru emas ini tak lepas dari dinamika geopolitik global, khususnya di tengah meningkatnya ketegangan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

Michael Wildon Ng, Research Analyst dari Verdhana Sekuritas Indonesia, menyoroti bahwa lonjakan harga emas global ini adalah pemicu revaluasi yang signifikan bagi para emiten emas Indonesia. Menurutnya, kondisi saat ini menandai titik awal dari siklus pertumbuhan baru yang berpotensi transformatif.

Harga Emas Capai Rekor Tertinggi, Terdorong Spekulasi Pemangkasan Suku Bunga AS

Tak hanya didorong ketegangan dagang, rekor tertinggi harga emas juga banyak dikaitkan dengan spekulasi pemangkasan suku bunga acuan di Amerika Serikat yang meningkatkan daya tarik aset non-bunga. Dalam analisisnya yang diterima Kontan pada Selasa (14/10/2025), Michael Wildon Ng memaparkan bahwa momentum pertumbuhan baru bagi emiten tambang emas di Indonesia terutama didorong oleh eksplorasi yang berhasil, penambahan kapasitas produksi, serta suksesnya agenda Initial Public Offering (IPO).

Berdasarkan proyeksinya, sektor tambang emas Tanah Air diperkirakan akan membukukan rata-rata pertumbuhan laba majemuk tahunan (CAGR) yang impresif, mencapai 45% selama periode 2026–2029. Angka ini didukung oleh peningkatan signifikan dalam volume produksi serta keberhasilan ekspansi tambang bawah tanah yang mulai menunjukkan hasilnya.

Michael juga memperkirakan bahwa Total Shareholder Return (TSR) untuk sektor ini berpotensi merangkak hingga 45% pada tahun 2026, sebuah pencapaian yang utamanya didorong oleh fundamental pertumbuhan laba yang kuat dan berkelanjutan.

Kesuksesan IPO PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi indikator penting dalam momentum ini. Dengan valuasi sekitar US$ 377 per ons cadangan emas berdasarkan harga penawaran perdana, EMAS telah menetapkan tolok ukur baru yang mengukuhkan tren rerating positif bagi sektor tambang emas Indonesia.

Lebih lanjut, Michael memproyeksikan PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dan PT Archi Indonesia Tbk (ARCI) akan tampil sebagai motor penggerak pertumbuhan baru yang signifikan. Hal ini didasari oleh dimulainya proyek-proyek tambang bawah tanah strategis serta potensi peningkatan kadar emas dari hasil produksi mereka.

Bahlil: Pasokan Emas Antam (ANTM) Terdampak Berhentinya Tambang Grasberg Freeport

Michael menegaskan bahwa perencanaan ekspansi yang matang serta monetisasi cadangan emas baru akan menjadi kunci dalam mempertahankan momentum pertumbuhan jangka panjang yang kokoh bagi sektor tambang emas.

Di sisi lain, langkah akuisisi aset emas Doup oleh PT United Tractors Tbk (UNTR) juga dipandang sangat strategis. Akuisisi ini tidak hanya menambah nilai signifikan bagi perusahaan tetapi juga memperkuat prospek pertumbuhan laba UNTR di masa mendatang.

Meski demikian, sektor ini tidak luput dari tantangan, termasuk kenaikan royalti sebesar 60% dan penerapan mandat biodiesel B40 yang berpotensi meningkatkan biaya operasional. Namun, Michael optimis bahwa emiten tambang emas di Indonesia masih memiliki kapasitas untuk menjaga margin kas yang sehat.

Ia menjelaskan, selisih antara harga jual emas dan biaya produksi masih tergolong lebar. Dengan rata-rata margin kas yang stabil di kisaran 45%–50%, ini menjadi bukti nyata kekuatan dan efisiensi operasional yang dimiliki para emiten tambang emas di tengah berbagai tekanan biaya.

Menutup analisisnya, Verdhana Sekuritas menempatkan ARCI sebagai pilihan utama di antara emiten tambang emas. Diikuti oleh INDY, EMAS, BRMS, dan UNTR, semua saham tersebut diberikan rekomendasi ‘beli’ atau buy.

“Rekomendasi buy untuk saham-saham ini didasari oleh valuasi yang masih sangat menarik dan prospek laba yang sangat menjanjikan,” pungkas Michael. Ia menambahkan, Indonesia berada dalam posisi yang sangat strategis untuk mengoptimalkan dan memanfaatkan siklus emas global berikutnya, menegaskan potensi keuntungan bagi para investor.

Ringkasan

Harga emas global mencapai rekor tertinggi, melampaui US$ 4.100 per ons troi, didorong oleh ketegangan geopolitik dan spekulasi pemangkasan suku bunga di Amerika Serikat. Kenaikan ini menciptakan momentum revaluasi signifikan dan fase pertumbuhan jangka panjang yang menjanjikan bagi emiten tambang emas di Indonesia. Michael Wildon Ng dari Verdhana Sekuritas Indonesia mengidentifikasi ini sebagai awal dari siklus pertumbuhan baru yang transformatif bagi sektor tersebut.

Verdhana Sekuritas memproyeksikan sektor tambang emas akan mencatat rata-rata pertumbuhan laba majemuk tahunan (CAGR) sebesar 45% pada 2026–2029, didukung peningkatan volume produksi dan ekspansi tambang bawah tanah. Meskipun menghadapi tantangan seperti kenaikan royalti, emiten diperkirakan tetap mampu mempertahankan margin kas yang sehat. Verdhana merekomendasikan ‘beli’ untuk saham ARCI (pilihan utama), INDY, EMAS, BRMS, dan UNTR, berdasarkan valuasi menarik dan prospek laba yang menjanjikan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance