Emiten kendaraan listrik dari Grup Bakrie, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, mengumumkan strateginya untuk fokus pada perluasan pasar di segmen business to business (B2B). Langkah ini diambil di tengah laporan penurunan laba bersih perseroan yang signifikan pada semester I 2025. Laba bersih VKTR tercatat turun 68,7 persen, dari Rp 15,1 miliar menjadi Rp 4,7 miliar, pada periode tersebut.
Menanggapi kondisi ini, Chief of Corporate Affairs VKTR, Indah Permatasari Saugi, menjelaskan bahwa diversifikasi ke segmen B2B bertujuan agar perseroan tidak terlalu bergantung pada sektor publik atau business to government (B2G). “Langkah diversifikasi ini kami tempuh agar tidak hanya bergantung pada sektor publik,” ujarnya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, yang dikutip pada Rabu, 8 Oktober 2025.
Indah menambahkan, perluasan pasar ke segmen B2B akan diperkuat sebagai strategi jangka menengah perusahaan. Melalui strategi ini, VKTR optimistis dapat melihat kontribusi positif pada peningkatan pendapatan dan margin keuntungan yang mulai terlihat pada semester II tahun ini. Dampaknya diharapkan akan tercermin secara penuh dalam laporan keuangan akhir tahun 2025.
Selain itu, Indah juga menjelaskan bahwa pemesanan yang telah diterima pada semester I 2025 akan terealisasi sebagai pendapatan pada paruh kedua tahun ini. Hal ini turut mempertimbangkan lead time penjualan unit Completely Knocked Down (CKD) atau suku cadang yang memerlukan proses perakitan. “Pesanan tersebut akan terealisasi sebagai pendapatan secara bertahap pada kuartal III dan IV tahun 2025,” katanya. Sementara itu, PT Bakrie Autoparts, anak usaha perseroan, diharapkan tetap mencatatkan laba usaha pada semester II 2025, sehingga mendorong pertumbuhan penjualan dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Direktur Utama VKTR, Gilarsi W. Setijono, sebelumnya telah mengungkap penyebab penurunan laba pada semester I 2025. Menurutnya, mayoritas pengiriman kendaraan listrik baru memang dijadwalkan pada paruh kedua tahun ini. “Mengingat sebagian besar pengiriman unit dijadwalkan terjadi di semester kedua 2025,” tutur Gilarsi dalam keterangan pers yang diterima Tempo, Rabu, 30 Juli 2025.
Untuk menggenjot pertumbuhan di tahun ini, Gilarsi menyebutkan bahwa VKTR fokus memperkuat aktivitas penjualan dan pemasaran. Sejak awal tahun, perusahaan telah aktif menggarap pesanan yang akan mulai direalisasikan pada semester kedua. VKTR juga terus mendorong peningkatan produksi kendaraan listrik komersial yang dirakit secara lokal dengan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) yang tinggi. Gilarsi menegaskan, penguatan kehadiran perusahaan di sektor kendaraan listrik berbasis baterai (KLBB) bukan hanya langkah bisnis, tetapi juga cerminan komitmen VKTR dalam menghadirkan solusi berkelanjutan. “Dengan tetap agile dan responsif terhadap perubahan, kami siap tumbuh bersama pasar yang terus berkembang, seiring dengan arah diversifikasi produk di masa depan,” imbuh Gilarsi.
Hingga akhir Juni 2025, total aset VKTR menunjukkan pertumbuhan yang menggembirakan, naik 11,4 persen secara tahunan menjadi Rp 1.791 miliar, dari Rp 1.609 miliar per 31 Desember 2024. Gilarsi menjelaskan, kenaikan aset ini terutama berasal dari penambahan aset tetap setelah rampungnya pembangunan pabrik di Magelang, Jawa Tengah. Pabrik baru ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi kendaraan listrik dan mendukung peningkatan uang muka seiring masuknya pesanan besar dari pelanggan utama.
Meskipun pasar otomotif nasional masih lesu, di mana data Gaikindo mencatat penjualan kendaraan turun 9 persen secara tahunan, VKTR justru mencatat pertumbuhan 4 persen pada segmen manufaktur suku cadang di semester I 2025. Gilarsi memaparkan, pertumbuhan ini ditopang oleh peningkatan permintaan dari pelanggan utama di segmen kendaraan komersial. Selama paruh pertama 2025, VKTR telah menerima Purchase Order (PO) untuk 10 unit transporter dari penyedia jasa transportasi di Jawa Barat. Selain itu, VKTR juga tengah merakit 80 unit bus listrik CKD untuk Transjakarta berdasarkan pesanan yang masuk pada kuartal II, yang merupakan penambahan dari 72 unit bus listrik lainnya yang telah beroperasi untuk Transjakarta.
Ringkasan
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk, emiten kendaraan listrik dari Grup Bakrie, mengalihkan fokus strategi pasar ke segmen business to business (B2B) untuk diversifikasi. Langkah ini diambil menyusul penurunan laba bersih 68,7 persen pada semester I 2025, yang dijelaskan karena mayoritas pengiriman unit kendaraan listrik dijadwalkan pada paruh kedua tahun ini. VKTR optimistis strategi B2B ini akan mulai memberikan kontribusi positif pada pendapatan dan margin keuntungan mulai semester II 2025. Dampak penuhnya diharapkan akan tercermin dalam laporan keuangan akhir tahun 2025.
Pesanan yang telah diterima pada semester I 2025, termasuk 80 unit bus listrik CKD untuk Transjakarta, akan terealisasi sebagai pendapatan secara bertahap pada kuartal III dan IV. VKTR juga memperkuat aktivitas penjualan, pemasaran, serta meningkatkan produksi kendaraan listrik komersial lokal dengan TKDN tinggi. Hingga Juni 2025, total aset perusahaan tumbuh 11,4 persen menjadi Rp 1.791 miliar, didorong oleh rampungnya pembangunan pabrik di Magelang. Meskipun pasar otomotif nasional lesu, segmen manufaktur suku cadang VKTR mencatat pertumbuhan 4 persen pada semester I 2025.









