Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

CEO Goldman Sachs Prediksi Pasar Saham Akan Turun 12–24 Bulan Lagi akibat Demam AI

badge-check


					CEO Goldman Sachs Prediksi Pasar Saham Akan Turun 12–24 Bulan Lagi akibat Demam AI Perbesar

Narapena – Pasar saham global diperkirakan akan mengalami koreksi dalam satu hingga dua tahun ke depan setelah lama melambung akibat euforia kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Prediksi itu disampaikan Chief Executive Officer (CEO) Goldman Sachs, David Solomon.

“Pasar bergerak dalam siklus, dan setiap kali kita secara historis mengalami percepatan signifikan dalam teknologi baru yang menciptakan banyak pembentukan modal, dan karenanya banyak perusahaan baru yang menarik di sekitarnya, kita umumnya melihat pasar bergerak di depan potensi … akan ada pemenang dan pecundang,” kata Solomon dalam Italian Tech Week di Turin, Italia, Jumat (3/10/2025), dilansir CNBC.

Baca juga: Saham 8 Emiten yang IPO Tahun Ini Melemah, BEI: Kinerja Tak Diukur dari Fluktuasi Harga

Ia menyinggung era awal ledakan internet pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an.

Banyak perusahaan besar lahir pada masa itu, tapi banyak pula investor kehilangan uang akibat gelembung yang dikenal sebagai dotcom bubble.

“Anda akan melihat fenomena serupa di sini,” ujarnya.

“Saya tidak akan terkejut jika dalam 12 hingga 24 bulan ke depan, kita melihat penurunan di pasar ekuitas … Saya pikir akan ada banyak modal yang diinvestasikan yang ternyata tidak memberikan imbal hasil, dan ketika itu terjadi, orang-orang tidak akan merasa baik.,” sambungnya.

Ledakan minat terhadap AI memang mengubah arah pasar global.

Teknologi baru, kesepakatan bernilai miliaran dolar, dan laju pesat perusahaan seperti OpenAI—pengembang ChatGPT—mendorong investor menanamkan modal besar ke saham teknologi seperti Microsoft, Alphabet, Palantir, dan Nvidia.

Baca juga: Jeff Sebut AI Sedang dalam Fase Bubble, tapi Potensi Manfaatnya Besar

Antusiasme terhadap AI ikut mengangkat indeks saham di Wall Street dan bursa dunia ke rekor tertinggi, meski sempat tertekan awal tahun ini akibat kebijakan perdagangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Namun di tengah optimisme itu, muncul kekhawatiran soal potensi gelembung pasar.

“Saya tidak akan menggunakan kata ‘gelembung’, karena saya tidak tahu, saya tidak tahu bagaimana jalannya, tapi saya tahu orang-orang berada di kurva risiko karena mereka antusias,” kata Solomon.

“Dan ketika (investor) antusias, mereka cenderung memikirkan hal-hal baik yang bisa berjalan lancar, dan mereka mengabaikan hal-hal yang seharusnya diragukan yang bisa salah … Akan ada penyesuaian, akan ada pemeriksaan pada suatu saat, akan ada penurunan. Tingkatannya akan bergantung pada seberapa lama (bull run) ini berlangsung,” sebutnya.

Pendiri Amazon, Jeff Bezos, juga memperingatkan potensi gelembung dalam sektor AI. Dalam acara yang sama, ia menyebut teknologi ini kini berada dalam “gelembung industri.”

Investor veteran Leon Cooperman menyampaikan pandangan serupa.

Dalam wawancara dengan CNBC, ia menilai pasar kini sudah memasuki tahap akhir dari tren kenaikan panjang, di mana gelembung berisiko terbentuk. Peringatan serupa pernah diungkapkan Warren Buffett.

Meski mengakui ada potensi modal hilang, Solomon tetap melihat peluang besar di balik perkembangan AI.

“Saya tidur nyenyak. Saya tidak pergi tidur setiap malam khawatir tentang apa yang akan terjadi selanjutnya,” katanya.

“Secara umum, saya pikir yang sangat menarik adalah teknologi ini berkembang, perusahaan baru terbentuk, dan potensi teknologi ini diterapkan dalam perusahaan dapat sangat, sangat kuat. Jadi, ini adalah masa yang menarik,” sambung Solomon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance