Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Bitcoin Bergejolak! Dampak Pemangkasan Suku Bunga The Fed untuk Investor

badge-check


					Bitcoin Bergejolak! Dampak Pemangkasan Suku Bunga The Fed untuk Investor Perbesar

Narapena – Pekan lalu, keputusan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) untuk memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin seharusnya menjadi angin segar bagi aset berisiko. Namun, kenyataannya justru berbeda, terutama bagi Bitcoin. Alih-alih merespons positif, aset kripto terbesar di dunia ini justru menunjukkan pergerakan yang tak terduga, sempat menyentuh level tertinggi di USD 117.700 sebelum kembali terkoreksi tajam hingga USD 111.500 pada Kamis (25/9).

Fenomena ini sontak memicu tanda tanya besar di kalangan investor. Secara umum, kebijakan suku bunga rendah kerap diinterpretasikan sebagai sinyal positif yang mendorong pertumbuhan aset-aset berisiko, termasuk saham dan aset kripto. Namun, kali ini, pasar menunjukkan reaksi yang berlawanan, membuat banyak pihak bertanya-tanya tentang penyebab di baliknya.

Mengapa Bitcoin Malah Turun?

Menurut analis Reku, Fahmi Almuttaqin, penurunan harga Bitcoin dan Ethereum lebih banyak dipengaruhi oleh antisipasi pasar yang telah terjadi jauh sebelum pengumuman kebijakan The Fed. “Likuiditas sempat mengalir deras ke aset risk-on sebelum pengumuman, sehingga ketika keputusan keluar, sebagian investor memilih ambil untung,” jelasnya dalam catatan analisis.

Selain itu, kekhawatiran pelaku pasar juga meningkat akibat alasan di balik pemangkasan suku bunga itu sendiri. The Fed terpaksa menurunkan suku bunga karena kondisi ekonomi AS yang menunjukkan tanda-tanda pelemahan, terutama pada sektor tenaga kerja. Situasi ini turut memicu kekhawatiran akan potensi kenaikan inflasi di masa mendatang.

Kroket Kentang Kari ala Devina Hermawan, Renyah Keemasan di Luar dengan Kejutan Keju Lumer di Dalam yang Bikin Nagih Setiap Gigitan

Data neraca keuangan The Fed juga mengindikasikan bahwa likuiditas global belum sepenuhnya melonggar. Per 17 September 2025, total aset The Fed tercatat sebesar USD 6,6 triliun, angka yang masih jauh di bawah puncaknya saat pandemi yang mendekati USD 9 triliun. Ini menunjukkan bahwa kebijakan pengetatan moneter (Quantitative Tightening/QT) masih berlangsung, meskipun lajunya lebih lambat, menahan aliran dana segar ke pasar.

Meski demikian, Fahmi menilai kondisi pasar saat ini cenderung netral. Indikator on-chain SOPR (Spent Output Profit Ratio) menunjukkan bahwa aksi ambil untung telah mereda dan kembali ke level normal. “Tekanan jual jangka pendek kemungkinan minim,” tambahnya, memberikan sedikit ketenangan di tengah gejolak.

Prospek pasar ke depan justru membuka peluang positif bagi aset kripto. The Fed diperkirakan berpotensi memangkas suku bunga acuan hingga dua kali lagi pada akhir tahun, sesuai dengan hasil jajak pendapat dot plot. Jika inflasi dapat terkendali, sentimen positif ini berpotensi kuat mendorong harga Bitcoin dan Ethereum naik.

Fahmi juga menyoroti tren akumulasi institusi yang masih solid, ditambah lagi dengan potensi lahirnya ETF altcoin yang dapat menarik lebih banyak investasi. “Bukan tidak mungkin Bitcoin maupun Ethereum bisa cetak rekor harga tertinggi baru,” ungkapnya optimis.

Namun, perjalanan menuju level tertinggi baru tidak akan tanpa hambatan. Berbagai risiko seperti kemungkinan shutdown pemerintah AS, pelemahan lapangan kerja, atau penguatan dolar AS bisa memicu koreksi tajam. Dalam skenario terburuk, Bitcoin bahkan bisa kembali merosot di bawah USD 100.000, seperti yang diwaspadai Fahmi.

Bagi investor domestik, tren penurunan suku bunga The Fed membuka peluang diversifikasi ke aset kripto yang menarik. Namun, tingginya volatilitas pasar tetap harus menjadi perhatian utama. Fahmi menyarankan strategi Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu membeli kripto secara bertahap dalam jumlah kecil dan rutin, ketimbang melakukan investasi besar sekaligus. “Pasar kripto kini tidak bisa dilepaskan dari dinamika global. Investor perlu memantau bukan hanya harga Bitcoin, tapi juga likuiditas dolar dan arus dana institusi,” tegasnya, menekankan pentingnya pemahaman makroekonomi dalam berinvestasi di aset digital.

Ringkasan

Keputusan The Fed memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pekan lalu tidak membuat Bitcoin merespons positif; aset kripto ini justru bergejolak dan terkoreksi tajam. Menurut analis Reku, Fahmi Almuttaqin, penurunan tersebut dipicu oleh aksi ambil untung investor yang telah mengantisipasi pemangkasan suku bunga jauh hari. Selain itu, kekhawatiran atas pelemahan ekonomi AS dan likuiditas global yang belum sepenuhnya longgar juga turut membebani pasar.

Meskipun demikian, kondisi pasar kripto saat ini cenderung netral dengan tekanan jual jangka pendek yang minim. Prospek ke depan menunjukkan peluang positif dengan potensi pemangkasan suku bunga The Fed lebih lanjut dan tren akumulasi institusi yang solid. Namun, investor perlu mewaspadai risiko seperti potensi shutdown pemerintah AS atau penguatan dolar, sehingga strategi Dollar Cost Averaging (DCA) disarankan sambil memantau dinamika makroekonomi global.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance