
Narapena – Di tengah ketegangan dan sergapan militer yang ketat, satu-satunya kapal yang tersisa dari armada Global Sumud Flotilla, Marinette, berhasil selamat dari sergapan Israel dan melanjutkan pelayaran menantang menuju Gaza pada Jumat (3/10/2025). Kapal ini kini menjadi simbol perlawanan dan harapan dalam misi menembus blokade Israel.
Sebelumnya, armada Global Sumud Flotilla (GSF) melaporkan bahwa sebanyak 42 kapal dari konvoi mereka telah dicegat secara ilegal oleh pasukan Israel pada Kamis (2/10/2025). Insiden tersebut juga dibarengi dengan penculikan para penumpang secara melawan hukum, sebuah tindakan yang memicu kecaman internasional.
Kini, seluruh perhatian dunia tertuju pada kapal Marinette. Berdasarkan pelacak resmi armada, kapal tersebut adalah satu-satunya yang masih gigih melanjutkan misinya menembus blokade ketat Israel atas Gaza. Keberanian Marinette menjadi sorotan setelah puluhan kapal lain dipaksa berhenti atau ditahan.
“Dunia telah menyaksikan konsekuensi yang dihadapi warga sipil ketika mereka berani menentang pengepungan. Namun, Marinette tetap berlayar,” demikian pernyataan GSF yang diunggah di Instagram, sebagaimana dilansir AFP. “Ia sadar akan nasib saudara-saudaranya di lautan, ia tahu apa yang menanti di depan. Namun, ia dengan teguh menolak untuk berbalik arah,” lanjut GSF, menggambarkan determinasi yang luar biasa.
Armada GSF sendiri memulai perjalanannya pada bulan lalu, membawa puluhan kapal yang mengangkut beragam politisi dan aktivis kemanusiaan, termasuk aktivis iklim terkenal dari Swedia, Greta Thunberg. Misi mulia mereka adalah mencapai Gaza, wilayah Palestina yang kini tengah dilanda kengerian dan kelaparan akibat serbuan serta blokade yang diberlakukan Israel.
Pencegatan terhadap armada GSF oleh Israel telah berlangsung sejak Rabu (1/10/2025). Seorang pejabat Israel pada Kamis mengonfirmasi bahwa kapal-kapal yang mengangkut lebih dari 400 orang di dalamnya telah berhasil dicegah memasuki wilayah pesisir tersebut, menegaskan operasi militer mereka untuk mempertahankan blokade.
Gelombang Protes Global
Insiden pencegatan armada GSF ini sontak memicu gelombang demonstrasi besar di berbagai belahan dunia. Pada Kamis (2/10/2025), sekitar 15.000 orang membanjiri jalan-jalan di Barcelona, Spanyol, kota tempat armada GSF memulai pelayaran historisnya. Massa dengan lantang menyerukan slogan-slogan seperti “Gaza, kamu tidak sendiri,” “Boikot Israel,” dan “Palestina Merdeka,” menunjukkan solidaritas tanpa batas.
Di Dublin, Irlandia, ratusan orang juga berkumpul di depan parlemen. Miriam McNally, seorang warga Irlandia yang putrinya turut berlayar bersama armada GSF, mengungkapkan kecemasan mendalamnya akan keselamatan putrinya di tengah operasi militer tersebut. Aksi solidaritas serupa turut dilaporkan terjadi di Paris (Prancis), Berlin (Jerman), Den Haag (Belanda), Tunis (Tunisia), Brasilia (Brasil), dan Buenos Aires (Argentina), memperlihatkan skala protes global yang meluas.
Situasi Kemanusiaan di Gaza
Sementara fokus dunia tertuju pada armada GSF, situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk dengan cepat. Otoritas pertahanan sipil dan rumah sakit di Gaza melaporkan bahwa serangan udara Israel pada Kamis telah menewaskan sedikitnya 52 orang. Korban tewas termasuk seorang staf dari organisasi medis asal Prancis, Doctors Without Borders, yang semakin memperburuk krisis kemanusiaan di lapangan dan menggarisbawahi bahaya yang dihadapi pekerja bantuan.
Konflik yang kini telah berlangsung hampir dua tahun ini berawal dari serangan kelompok Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Menurut data resmi Israel yang dihimpun AFP, serangan tersebut menewaskan 1.219 orang, yang sebagian besar adalah warga sipil. Sebagai balasan, kampanye militer intensif Israel telah menewaskan 66.225 warga Palestina di Gaza, mayoritas di antaranya adalah warga sipil, berdasarkan data yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas.
Ringkasan
Kapal Marinette, satu-satunya yang tersisa dari armada Global Sumud Flotilla (GSF), berhasil lolos dari sergapan Israel pada Jumat (3/10/2025) dan gigih melanjutkan pelayaran ke Gaza. Sebelumnya, 42 kapal GSF dicegat secara ilegal oleh Israel pada Kamis, dengan penumpang diculik, memicu kecaman internasional. Armada ini, membawa politisi dan aktivis kemanusiaan seperti Greta Thunberg, bertujuan menembus blokade dan membawa bantuan ke Gaza.
Insiden pencegatan ini memicu gelombang protes global di berbagai kota seperti Barcelona, Dublin, dan Paris, menyerukan solidaritas untuk Palestina. Di sisi lain, situasi kemanusiaan di Gaza terus memburuk, di mana serangan udara Israel pada Kamis menewaskan sedikitnya 52 orang, termasuk staf Doctors Without Borders. Konflik yang berawal dari serangan Hamas pada Oktober 2023 ini telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa, mayoritas warga sipil.









