
Sebuah insiden tragis mengguncang Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Sidoarjo, Jawa Timur, pada Senin (29/9) lalu, ketika salah satu bangunannya mendadak runtuh. Peristiwa nahas ini terjadi saat sejumlah santri sedang khusyuk menunaikan salat Asar di musala lantai dasar, menyebabkan mereka tertimpa material reruntuhan bangunan.
Data terkini hingga Senin malam, pukul 23.49 WIB, menunjukkan dampak serius dari kejadian ini. Total 87 orang tercatat menjadi korban, dengan satu di antaranya dinyatakan meninggal dunia setelah insiden tragis tersebut.
Para korban luka-luka segera dilarikan ke beberapa fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan penanganan medis. Rinciannya, 38 korban dirawat di RSUD Notopuro, 4 orang di RS Delta Surya, dan sebanyak 45 santri lainnya menjalani perawatan intensif di RS Siti Hajar. Diketahui, korban meninggal dunia juga sempat mendapatkan perawatan di RS Siti Hajar sebelum dinyatakan tiada.
Tim SAR Hati-hati Evakuasi Santri
Menyikapi kondisi darurat ini, Tim SAR gabungan segera bergerak. Kepala Kantor Tim SAR Surabaya, Nanang Sigit, menegaskan bahwa timnya masih berfokus pada upaya evakuasi santri dari reruntuhan bangunan Ponpes Al-Khoziny. Ia menjelaskan bahwa proses evakuasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan penuh perhitungan, mengingat kondisi medan yang masih sangat rentan untuk mengalami keruntuhan susulan.
“Proses evakuasi tentunya kita fokus pada korban yang masih hidup,” ujar Nanang Sigit di lokasi kejadian pada Senin (29/9). Ia menambahkan, kehati-hatian menjadi prioritas utama karena kemiringan bangunan yang runtuh sangat berpotensi menyebabkan ambruk kembali, sehingga membahayakan tim penyelamat maupun korban lainnya.

Demi meminimalkan risiko, tim SAR juga menggunakan peralatan khusus yang tidak menghasilkan getaran berlebihan. Pendekatan ini, meskipun membutuhkan waktu lebih lama dalam prosesnya, merupakan langkah krusial untuk mencegah insiden lebih lanjut dan memastikan keselamatan.
Nanang menjelaskan, “Kita menjaga itu, makanya peralatan tertentu yang kita gunakan. Peralatan yang menggunakan mesin dan dapat menciptakan getaran berlebih, kita singkirkan terlebih dahulu demi keamanan area evakuasi.”
Kata Kiai saat Ponpes di Sidoarjo Runtuh
Di tengah upaya penyelamatan, dugaan mengenai penyebab ambruknya bangunan mulai terkuak. KH Abdus Salam Mujib, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al-Khoziny Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur, mengungkapkan perkiraan awal pemicu runtuhnya musala. Beliau kembali menegaskan bahwa para santri sedang melaksanakan salat Asar ketika tragedi itu terjadi.
Menurut Kiai Salam, musala yang ambruk tersebut diketahui sedang dalam tahap akhir renovasi, khususnya pada proses pengecoran terakhir. Ini memberikan petunjuk awal mengenai kemungkinan penyebab struktural.
Kiai Salam menjelaskan, “Sepertinya ini menopang cor itu tidak kuat di atas. Jadi menekan ke bawah, suaranya seperti dibom di bawahnya,” ujarnya menggambarkan kengerian saat insiden terjadi di lokasi pada Senin (29/9). Ini mengindikasikan adanya kegagalan struktural pada penopang saat menahan beban pengecoran.
Renovasi musala ini, yang rencananya akan ditingkatkan menjadi tiga lantai, diketahui telah berlangsung selama sekitar 10 bulan. Proses panjang ini, ditambah dengan dugaan kegagalan penopang, menjadi fokus penyelidikan untuk mengungkap penyebab pasti keruntuhan.
Ringkasan
Sebuah bangunan di Pondok Pesantren Al-Khoziny, Sidoarjo, runtuh secara tragis pada Senin (29/9) saat santri sedang salat Asar di musala lantai dasar. Insiden ini menyebabkan 87 korban, termasuk satu santri yang meninggal dunia setelah sempat dirawat. Korban luka-luka segera dilarikan ke RSUD Notopuro, RS Delta Surya, dan RS Siti Hajar untuk penanganan medis.
Tim SAR gabungan melakukan evakuasi dengan sangat hati-hati, menggunakan peralatan khusus untuk mencegah keruntuhan susulan. Pengasuh ponpes, KH Abdus Salam Mujib, menduga musala ambruk karena penopang tidak kuat menahan beban pengecoran terakhir. Bangunan tersebut diketahui sedang dalam tahap akhir renovasi untuk ditingkatkan menjadi tiga lantai, sebuah proses yang telah berlangsung selama sekitar 10 bulan.









