
Pada 8 September lalu, tujuh pekerja PT Freeport Indonesia terjebak di area tambang bawah tanah Grasberg Block Caving akibat luncuran material basah berisi batuan dan lumpur. Peristiwa ini, menurut seorang guru besar Institut Teknologi Bandung, terjadi dalam “volume besar yang belum terjadi sebelumnya”.
Dua pekan setelah insiden tragis tersebut, nasib lima pekerja masih belum jelas, sementara dua lainnya telah ditemukan dalam keadaan meninggal dunia, menambah kepedihan keluarga dan sorotan terhadap keselamatan di tambang Freeport.
Dalam berbagai kesempatan, Freeport mengklaim telah membangun ruang perlindungan yang aman bagi pekerja mereka yang bertugas di area tambang bawah tanah, termasuk di lokasi insiden luncuran material basah, Grasberg Block Caving. Sebagai contoh, pada Mei 2019, Freeport merilis pernyataan mengenai pembangunan ruang perlindungan bawah tanah senilai US$ 5 juta atau sekitar Rp83 miliar.
“Kami ingin karyawan kami tahu bahwa mereka datang ke tempat kerja yang aman dan kami serius dalam mencegah sesuatu yang buruk terjadi,” kata Chris Zimmer, yang saat itu menjabat Senior Vice President Underground Division PT Freeport Indonesia, menegaskan komitmen perusahaan terhadap keselamatan pekerja.
Sebelumnya, melalui unggahan di media sosial pada Maret 2018, Freeport menyebut bahwa ruang perlindungan tersebut dirancang untuk melindungi para pekerja dari ancaman seperti kebakaran, runtuhan struktur tambang, bahkan paparan bahan peledak atau gas beracun.


Namun, menurut Bangun Samosir, seorang praktisi pertambangan yang telah berkarya lebih dari satu dekade di Freeport, ruang perlindungan itu tidak dapat menjamin keselamatan pekerja saat menghadapi luncuran material basah. Bangun menjelaskan bahwa keberadaan ruang perlindungan tersebut terbatas pada titik-titik tertentu.
Bahkan jika pekerja berhasil menyelamatkan diri ke ruangan tersebut, Bangun meragukan kemampuan mereka untuk bertahan hidup mengingat pasokan oksigen dan makanan yang terbatas. “Bayangkan saja, batu dan material halus—yang dalam level produksi ukurannya 30 sentimeter—bercampur dengan volume air yang begitu besar. Seperti pada sungai yang banjir, arus air membawa batu-batu itu,” Bangun menggambarkan kengerian situasi.
“Material basah itu masuk ke area produksi, ke tempat para pekerja berjalan, menyumbat ujung-ujung terowongan,” lanjutnya. “Kalau semua jalan tertutup, orang akan sulit keluar karena kalau material ditarik dari luar pun, dia akan terus turun sampai airnya habis,” kata Bangun, menjelaskan kompleksitas upaya evakuasi dalam kondisi seperti itu.

Seorang mantan pekerja Freeport lainnya mengungkapkan pengalaman mengerikan yang berulang kali dihadapinya di tambang bawah tanah, seperti tertimpa batu atau tersapu luncuran material basah. Ancaman nyata terhadap nyawa menjadi salah satu pertimbangan utamanya saat memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaan “yang didambakan banyak mahasiswa pertambangan” itu.
“Hari itu kami sedang mengukur dinding terowongan panel produksi, tiba-tiba seperti di video yang beredar, material basah keluar, meluncur dari atas,” kenangnya. “Bunyinya seperti longsor, bunyinya dari dalam lubang [tempat bijih yang hancur keluar ke corong]. Kecepatannya tidak terlalu kencang, tapi bunyinya seperti tanah longsor, terdengar dari dalam lubang. Itu menakutkan,” ucapnya, memberikan gambaran langsung tentang horor insiden tambang.
Tim BBC telah berupaya menghubungi Freeport untuk mendapatkan tanggapan terkait liputan ini, namun hingga berita ini diturunkan, tidak ada respons yang diberikan. Sebagai salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia, dengan sumbangan Rp79 triliun ke kas negara pada tahun 2024, Freeport mempekerjakan sekitar 5.000 orang di tambang bawah tanah mereka.
Tambang bawah tanah Grasberg telah beberapa kali diwarnai insiden fatal, termasuk peristiwa batuan runtuh pada tahun 2013 yang menewaskan 28 pekerja. Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara, Tri Winarno, menyatakan bahwa luncuran material basah yang terjadi di area tambang bawah tanah Grasberg Block Caving awal September lalu merupakan yang terparah sepanjang sejarah pertambangan Indonesia.
Tri menambahkan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan melakukan investigasi mendalam terkait insiden tersebut. Namun, saat ini fokus utama mereka “masih pada” pencarian lima pekerja yang masih terjebak di bawah tanah. Berbagai pertanyaan mendasar kini menanti jawaban, terutama apakah Freeport sebenarnya bisa mencegah risiko luncuran material basah yang sangat mengancam nyawa para pekerja tambang mereka?
Apa yang terjadi pada 7 pekerja Freeport?
Luncuran material basah di area tambang bawah tanah Grasberg Block Caving terjadi pada 9 September lalu, sekitar pukul 22.00 WIT, tepatnya di panel produksi 28-30. Tiga video dari kamera pengawas milik Freeport, yang merekam detik-detik kejadian, beredar tak lama setelah insiden tersebut.
Merujuk pada rekaman audio visual itu, Bangun Samosir, mantan praktisi pertambangan di Freeport, juga meyakini bahwa area yang dihantam luncuran material basah berada di terowongan panel produksi.

Bangun berpegangan pada satu video yang memperlihatkan mesin penghancur batu, atau “rock breaker,” yang berfungsi memecah batuan agar bisa masuk ke level transportasi. Berdasarkan video berdurasi 16 detik itu, Bangun mengamati semburan material basah yang keluar dari drawpoint—lubang tempat bijih mineral yang rontok keluar dan diangkut. “Semburan ini mengindikasikan adanya sumber air. Seharusnya area ini kering,” kata Bangun. “Tiba-tiba material basah meluncur, tidak bisa dihindari pekerja yang ada di situ,” tuturnya, menggambarkan kecepatan dan kekuatan kejadian.


Video lain merekam detik-detik luncuran material basah dari pukul 22.04 hingga 22.15. Pada awal rekaman, seorang pekerja terlihat berjalan ke arah yang kemudian menjadi titik keluarnya material basah. Sekitar enam menit kemudian, satu pekerja lain juga berjalan menuju ke arah yang sama, seolah tanpa firasat akan bahaya yang mengintai.


Pukul 22.11, seorang pekerja terlihat berlari ke arah berlawanan dari dua pekerja sebelumnya, mungkin telah merasakan tanda-tanda bahaya. Pukul 22.14, satu pekerja lagi tampak berjalan ke arah yang sama seperti dua pekerja pertama. Hanya satu menit setelahnya, pada pukul 22.15, luncuran material basah yang masif—termasuk bongkahan batu besar—mengalir deras, memenuhi panel produksi, terowongan tempat para pekerja tadi berjalan hilir mudik. “Terowongan ini panjang, mungkin sampai beberapa ratus meter. Kalau kejadiannya di tengah, pekerja yang di ujung terowongan mungkin tidak tahu, sampai akhirnya panel produksi itu tertutup semua,” kata Bangun. “Dari yang saya lihat, rekaman ini diambil di dekat drawpoint, tempat menyodok bijih,” tuturnya.


Belakangan, identitas ketujuh pekerja yang terjebak di tambang Freeport beredar luas: Irwan, Wigih Hartono, Victor Manuel Bastida Ballesteros, Holong Gembira Silaban, Dadang Hermanto, Zaverius Magai, dan Balisang Telile. Merujuk dokumen internal Freeport tertanggal 9 September, ketujuh pekerja itu tengah mengerjakan “pengembangan tambang” saat luncuran material basah melanda.
Volume material basah yang sangat besar, menurut berkas tersebut, menutup akses dan membatasi rute evakuasi bagi tim penyelamat. Meskipun demikian, Juru Bicara Freeport Indonesia, Katri Krisnati, dalam keterangan tertulisnya, menyatakan bahwa perusahaannya telah mengetahui lokasi ketujuh pekerja tersebut. “Mereka diyakini aman,” kata Katri, “Penyediaan kebutuhan bagi para pekerja yang terdampak sedang dilakukan.”
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menambahkan bahwa setelah terdampak luncuran material basah, para pekerja masih bisa berkomunikasi dengan tim Freeport melalui radio portabel (handy talkie). Melalui komunikasi inilah, klaim Yuliot, manajemen Freeport mengetahui posisi para pekerja, dan bahkan memprediksi dapat mengevakuasi mereka dalam 30 jam. Yuliot mengklaim bahwa dalam rentang waktu tersebut, Freeport sebenarnya telah membuat dua terowongan baru yang digali hingga mencapai lokasi luncuran material basah. Namun, tim evakuasi tetap tak bisa menemukan mereka, terkendala oleh terowongan tambang bawah tanah yang berliku-liku. Seiring waktu, komunikasi antara para pekerja yang terjebak dan manajemen Freeport akhirnya terputus. “Mungkin [handy talkie] habis baterai atau apa,” ujar Yuliot, menyiratkan putusnya harapan komunikasi.

Dalam pernyataan tertulis pada Rabu (24/09), Freeport menyebut bahwa luncuran material basah yang terjadi mencapai 800.000 metrik ton, meluap hingga ke beberapa lantai tambang. Pada 20 September lalu, 12 hari setelah kejadian, tim evakuasi akhirnya menemukan dua pekerja: Wigih Hartono dan Irawan. Keduanya dievakuasi dalam kondisi meninggal dunia.
Hingga tulisan ini diterbitkan, Freeport belum memperbarui informasi mengenai proses evakuasi lima pekerja yang masih terjebak. Kelimanya adalah pekerja Freeport dari pihak ketiga, yakni PT Redpath Indonesia, kontraktor pertambangan bawah tanah yang berafiliasi dengan Redpath Group di Ontario, Kanada.
Dua dari lima pekerja yang belum dievakuasi merupakan warga negara asing. Salah satunya adalah Balisang Telile, berasal dari kota Carletonville, Provinsi Gauteng, Afrika Selatan—sebuah daerah pertambangan emas yang berjarak 75 kilometer dari ibu kota Johannesburg. Pekerja warga negara asing lainnya adalah Victor Manuel Bastida Ballesteros, yang berasal dari Chili. Sementara itu, tiga pekerja lainnya adalah Holong Gembira Silaban (berasal dari Dolok Sanggul, Sumatra Utara), Dadang Hermanto (Bogor, Jawa Barat), dan Zaverius Magai (Timika).
‘Wigih adalah tulang punggung keluarga’
Freeport tidak mempublikasikan informasi detail terkait identitas para pekerja atau bagaimana mereka berinteraksi dengan keluarga korban pasca-peristiwa luncuran material basah. Ketika Wigih Hartono dan Irawan dikabarkan ditemukan pada 20 September lalu, tidak ada pula keterangan resmi dari Freeport mengenai rencana penerbangan jenazah ke kampung halaman atau bentuk santunan dan tanggung jawab lain yang diberikan kepada keluarga Wigih dan Irawan.

Pada sore 20 September, jurnalis Endy Langobelen yang berkolaborasi dengan BBC, menyaksikan sejumlah kerabat kedua korban tambang Freeport menangis di Bandara Moses Kilangin, Timika, yang dioperasikan oleh Freeport. Beberapa pegawai Freeport terlihat mendampingi mereka saat memasuki bandara, memberikan sedikit dukungan di tengah duka mendalam.
Sabtu sore itu, jenazah Wigih diberangkatkan ke rumah keluarganya di Ponorogo, Jawa Timur. Minggu dini hari, jenazah laki-laki berumur 37 tahun itu tiba, lantas disemayamkan, disalatkan, dan dikebumikan di pemakaman Desa Nambak. Namun, istrinya, Jarmini, tidak mengikuti prosesi penguburan. Dia memilih tetap berada di rumah duka, terhanyut dalam kesedihan. “Dia masih syok,” ujar Imam Susanto, adik Wigih.
Kondisi syok itu masih terpancar jelas di raut wajah Jarmini hingga Minggu siang. Ibu dua anak itu beberapa kali membasuh air mata yang menetes ke pipinya saat menyalami para pelayat yang datang. Jarmini menyandarkan tubuhnya yang terlihat lemah ke dinding di salah satu sudut ruang tamu kediamannya. Sembari duduk selonjoran, perempuan itu sering kali mengusap rambut anak lelakinya yang tertidur di sampingnya, mencoba mencari kekuatan. Anak kedua Wigih dan Jarmini juga terlihat berada di ruang tamu, merasakan kehilangan yang mendalam.

Wigih bukan staf langsung Freeport. Status kepegawaiannya terikat pada PT Citacontrac, perusahaan yang mengurus kelistrikan di tambang bawah tanah Freeport. Sebelum terbang ke Tembagapura untuk menjadi teknisi kelistrikan di Freeport, Wigih telah “jatuh bangun” dalam hidupnya, kata adiknya, Imam.
Setelah lulus sekolah menengah kejuruan di Tulungagung, Wigih mengadu nasib ke Malaysia. Di negara itu, kata Imam, Wigih bekerja serabutan, dari kuli bangunan hingga tukang las. “Kemudian dia pulang ke Ponorogo dan bekerja ke bengkel las milik orang,” ujar Imam, menceritakan perjuangan awal Wigih.

Selama tujuh tahun terakhir, Wigih bekerja di Tembagapura. Imam bercerita, abangnya setiap tahun pasti mudik. “Kalau pulang, pasti menengok orang tua di Tulungagung,” ujarnya, menunjukkan ikatan keluarga yang kuat. Tak lama setelah Wigih terjebak di terowongan panel produksi Grasberg Block Cave, ponsel Imam berdering. Di ujung telepon, saudara ipar Wigih yang bernama Halim memberi kabar duka.
“Saya diminta menghubungi keluarga di Tulungagung, untuk menjaga ibu agar tidak kaget,” ungkapnya. Dalam percakapan itu, Halim juga mengajak Imam untuk ikut terbang ke Timika guna memantau proses evakuasi Wigih. Namun, Imam tak bisa mendapat cuti dari pekerjaannya. Akhirnya, Halim berangkat bersama Jarmini. Imam dan seluruh kerabat terus memelihara harapan, yakin Wigih bisa keluar dari tambang bawah tanah dengan selamat. Namun belakangan, di Tembagapura, Halim dan Jarmini diminta melihat sesosok jenazah, diminta untuk memastikan identitasnya. “Kami harus mengikhlaskannya,” kata Imam, dengan suara berat penuh kesedihan.

Kerabat Wigih, Mahmudin, sangat terpukul melihat kematian saudaranya itu. Mahmudin mengetahui bagaimana Wigih membangun kehidupannya—dari seorang anak yang terlunta-lunta setelah ditinggal ibunya yang wafat, lalu mengadu nasib sebagai pekerja migran ke Malaysia dan Tanah Papua. Wigih, kata Mahmudin, adalah tulang punggung keluarga. Sebelum bekerja di Freeport, perekonomian keluarga Wigih sangat pas-pasan. “Dari kecil sudah terlunta-lunta. Sekarang kehidupannya sudah agak enak, tapi harus seperti ini (meninggal dunia),” kata Mahmudin, menyesali takdir pahit yang menimpa saudaranya. Seperti Wigih yang kehilangan ibunya saat kanak-kanak, dua anaknya kini akan menanggung nasib yang sama: ditinggal orang tua untuk selamanya.

Pada 21 September itu bukan hanya keluarga Wigih yang pergi ke pemakaman dan menanggung kepedihan. Pada hari yang sama, jenazah Irawan juga dikebumikan di Cilacap, Jawa Tengah, kampung halamannya. Seperti Wigih, Irawan juga berstatus pegawai PT Citacontrac dan mulai bekerja di Freeport sekitar sembilan tahun lalu. Di Tempat Pemakaman Umum Taman Firdaus, istri Irawan, Dwi Saptorini, tak bisa menahan tangis. Bersama dua anaknya, mereka menyaksikan jenazah Irawan dimakamkan, meratapi kepergian sang suami dan ayah.
Sekitar satu bulan sebelum tewas tergulung luncuran material basah di Grasberg Block Cave, Irawan menghabiskan hari-hari cutinya di Cilacap. Namun, tak lama setelah Irawan kembali ke Tembagapura, Dwi terbang ke kota tambang di kaki Nemangkawi Ninggok—nama asli Puncak Jaya dalam bahasa Amungme—untuk memantau proses evakuasi. “Keluarganya ke sana saat evakuasi dilakukan,” kata Mohammad Taufik, tetangga Irawan di Cilacap.

Sigit Wahyudi, saudara kandung Irawan, menyebut adiknya sebagai pribadi pendiam yang tak pernah lupa beribadah. “Kalau Idul Adha, tidak ada yang tahu, dia langsung berkurban begitu saja,” ujar Sigit, mengenang kebaikan adiknya. “Terakhir dia bilang ke saya, dia berencana berkurban lagi. Tapi niat Irawan belum tercapai,” ucapnya, menyiratkan duka atas rencana yang tak sempat terwujud.
‘Semua tahu risikonya, tapi tetap ke bawah tanah demi gaji besar’
Mendapatkan gambaran tentang situasi kerja di tambang bawah tanah Freeport memang sulit. BBC telah berbicara kepada sejumlah orang yang bekerja di lokasi itu, namun mayoritas dari mereka enggan berbicara untuk publik karena sensitivitas isu keselamatan tambang. Namun, seorang mantan pekerja Freeport bersedia menceritakan pengalamannya. Laki-laki ini meminta BBC mengidentifikasinya dengan nama Panji. Ia bekerja di Freeport selama hampir satu dekade.
Selama di Freeport, Panji bekerja dalam sebuah tim yang memantau pergerakan batuan di bawah tanah, termasuk juga material basah—yang dalam khasanah pertambangan disebut wet muck. Timnya, kata Panji, juga bertugas menopang pekerjaan para insinyur yang melakukan fase produksi—menambang bijih mineral.
Dalam kesehariannya, Panji dan timnya berpindah dari satu blok tambang ke blok tambang lain. Oleh karena itu, ia memiliki pengalaman di seluruh blok tambang bawah tanah Freeport, yakni Grasberg Block Cave (mulai ditambang 2019), Deep Ore Zone (berhenti produksi 2021), Deep Mill Level Zone (dibuka 2004), dan Big Gossan (mulai berproduksi 2009). “Dalam sehari kami kerja 12 jam. Dalam seminggu lima hari kerja,” ujar Panji via telepon, menggambarkan intensitas kerja di tambang.

Proses produksi di tambang bawah tanah Freeport berlangsung 24 jam sehari, tujuh hari seminggu, tanpa henti. Untuk mengantisipasi risiko kecelakaan kerja, Panji mengatakan bahwa para pekerja mendapatkan pelatihan keselamatan saat pertama kali bergabung dengan Freeport. Pelatihan itu mencakup protokol menghadapi batuan jatuh, luncuran material basah, kebakaran, dan gas beracun.
Panji menambahkan, para pekerja Freeport wajib mengulangi pelatihan tersebut dua kali dalam setahun. “Setiap pagi kami juga pasti ada evaluasi terkait keamanan kerja. Memang safety di Freeport itu… aduh, ketat sekali,” ujarnya. “Semua pekerja wajib ikut. Kalau tidak ikut ada sanksi. Konsekuensinya, bagi yang belum ulangi pelatihan, tidak boleh bekerja,” kata Panji, menunjukkan disiplin ketat yang diterapkan.
Meskipun demikian, pelatihan yang terus berulang itu tidak serta-merta menghilangkan rasa cemas Panji. Rasa khawatir, menurut dia, adalah bagian dari jati diri manusia saat berhadapan dengan bahaya laten di tambang. “Kalau dengar bunyi batu retak, bunyi material basah, atau lihat luncuran material basah, tetap saja, kami lari,” ujarnya, jujur mengakui naluri bertahan hidup.

Bunyi-bunyi mengerikan itu didengar Panji setiap hari di tambang bawah tanah. Ia menjelaskan, bunyi itu dipicu oleh teknik penambangan Freeport yang berbasis peledakan untuk membuat bijih mineral retak. Dengan metode block caving, bijih mineral—yang mengandung perak, tembaga, dan emas—merekah, lalu berjatuhan secara perlahan karena terdorong gravitasi. “Jadi saat ada aktivitas kendaraan berat atau peledakan, batuan itu mengalami tekanan, pecah atau merekah,” kata Panji.
Panji menambahkan bahwa Freeport mengembangkan sistem pengaman yang dapat menyangga batuan jatuh agar tidak menimpa para pekerja di bawah tanah. Namun, berbagai siasat mitigasi itu tidak bisa menghindarkan Panji dari peristiwa batuan jatuh dan juga luncuran material basah. Bertugas menganalisis perubahan kondisi batuan, ia kerap masuk ke lubang-lubang yang tidak berpenyangga. “Suatu hari batuan di atas kepala saya, karena tekanan tadi, pecah. Suaranya seperti ledakan,” kata Panji tentang pengalamannya di blok Deep Mill Level Zone. “Saya lepas semua alat-alat, lari sekuat tenaga ke jalur evakuasi,” tuturnya, menggambarkan momen mendebarkan tersebut.

Pada peristiwa lainnya di blok Deep Ore Zone, Panji pernah berhadapan langsung dengan luncuran material basah. “Hari itu kami sedang mengukur dinding terowongan panel produksi, tiba-tiba seperti di video yang beredar, material basah keluar, meluncur dari atas,” ujarnya. “Kecepatannya tidak terlalu kencang, tapi bunyinya seperti tanah longsor, terdengar dari dalam lubang. Itu menakutkan,” kata Panji, mengulang kesan horornya.
Saya lantas bertanya kepada Panji: dengan risiko yang mengancam nyawa, mengapa banyak orang bersedia bekerja di tambang bawah tanah Freeport? “Mungkin ini masalah kebutuhan,” jawabnya lugas. “Orang-orang tergiur dengan penghasilan yang lumayan. Kerja di underground gila gajinya,” kata Panji, menjelaskan daya tarik finansial yang kuat.
Namun, beberapa tahun lalu Panji merasa dirinya tak semestinya terus bekerja hanya demi mengejar uang atau demi menuntaskan mimpi seorang sarjana pertambangan. Sebelum memutuskan berhenti dari Freeport, Panji merasa “berada di persimpangan” hidupnya. “Saya merasa cukup, bahwa saya harus keluar, mencari pekerjaan yang lebih santai,” ujarnya, mengakhiri petualangan berisiko di bawah tanah.

Pengalaman serupa juga dirasakan Bangun Samosir, yang empat dekade lebih dulu bekerja di Freeport ketimbang Panji. Pada dekade 1980-an, Bangun terlibat dalam proyek pengembangan blok tambang bawah tanah Gunung Bijih Timur. Dalam satu peristiwa di lokasi itu, Bangun pernah nyaris tertimpa batuan jatuh. “Waktu itu saya kerja sampai 28 jam, lebih dari satu hari. Saking capainya, saya duduk di bukaan panel yang baru diledakkan,” kata Bangun. “Tiba-tiba batu sebesar lemari jatuh di samping kaki saya. Saya sudah tidak berpikir akan selamat waktu itu,” ujarnya, mengenang detik-detik menegangkan.

Sejak saat itu, selama kariernya di Freeport, Bangun berusaha meredam kecemasan saat bekerja di bawah tanah. Rasa takut, menurut dia, justru akan mengurangi kesigapan untuk menyelamatkan diri. “Jangan terlalu mengkhawatirkan kecelakaan kerja supaya bisa waspada,” ucapnya. “Bagi saya pribadi, kalau sudah masuk ke dalam tanah, saya tidak mengharapkan diri saya hidup. Itu untuk melepas stres. Semakin stres, tingkat kecelakaan kerja makin tinggi,” kata Bangun, berbagi filosofi bertahan hidupnya.
Bisakah Freeport hindarkan pekerja mereka terdampak luncuran material basah?
Sebuah penelitian internal Freeport yang dipaparkan pada konferensi geomekanika di Australia pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa luncuran material basah pertama kali terjadi di tambang bawah tanah Freeport pada tahun 1989. Peristiwa itu diyakini sebagai imbas dari proses kominusi atau peremukan bijih mineral di bawah tanah serta curah hujan tinggi di sekitar area pertambangan.
Riset internal Freeport itu menyebutkan bahwa produksi di blok tambang Deep Ore Zone dari tahun 1996 hingga 2021 memberikan banyak pengalaman berharga mengenai peristiwa luncuran material basah. Dari rentetan kejadian tersebut, Freeport disebut terus memperbaiki teknis produksi, termasuk mengurangi aktivitas pekerja dengan menggunakan peralatan yang dikendalikan jarak jauh. Riset itu mengklaim, Freeport membangun blok tambang Grasberg Block Cave dan Deep Mile Level Zone berdasarkan evaluasi mendalam terhadap luncuran material basah di Deep Ore Zone.
Di tengah berbagai klaim dan mitigasi keselamatan yang dikembangkan Freeport, Ridho Wattimena, profesor ilmu pertambangan di ITB, menyebut risiko luncuran material basah tidak bisa sepenuhnya ditekan. Alasannya, kata Ridho, hingga saat ini belum ada teknologi yang bisa memprediksi volume material basah di sebuah blok tambang bawah tanah.

Ridho menjelaskan bahwa ia memahami betul berbagai aspek pertambangan bawah tanah Freeport. Dalam studi doktoralnya, Ridho secara spesifik membahas metode block caving yang dijalankan Freeport. “Yang dijadikan acuan terkait luncuran material basah adalah Freeport karena mereka lebih berpengalaman dibandingkan tambang-tambang lainnya,” kata Ridho. “Tapi saya belum pernah dengar metode untuk memprediksi volume material basah,” ujarnya, menekankan keterbatasan teknologi.
Metode penambangan block caving yang digunakan Freeport, kata Ridho, akan selalu menciptakan material basah. Peledakan bijih mineral menciptakan butiran bijih yang pada saat tertentu bercampur dengan air tanah—yang volumenya bisa meningkat saat curah hujan tinggi. “Selama ini volume luncuran material basah di Freeport mungkin kecil jadi masih bisa diatasi dengan standar operasional yang diterapkan. Tapi yang baru-baru ini terjadi sangat-sangat besar,” ujar Ridho, menyoroti skala insiden terbaru.
Bagaimanapun, Ridho menyebut investigasi menyeluruh terhadap luncuran material basah di Grasberg Block Cave sangat vital dilakukan. Investigasi itu disebutnya harus digelar oleh pemerintah, melalui inspektur pertambangan di Kementerian ESDM.

Kepala Inspektur Tambang ESDM kini dijabat Hendra Gunawan, yang dilaporkan telah berada di Tembagapura beberapa hari setelah kejadian. “Pemerintah harus bikin tim investigasi independen untuk melihat apa yang terjadi, prosedur apa yang diterapkan dan bagaimana caranya agar ke depan tidak terjadi lagi,” kata Ridho, menyerukan transparansi dan akuntabilitas. “Pemerintah harus mewajibkan Freeport melakukan investigasi,” ujar Ridho dengan tegas.
Dalam pernyataan tertulisnya, Freeport berjanji akan mengusut tuntas luncuran material basah yang telah merenggut nyawa pekerja mereka ini. Tim investigasi yang mereka bentuk dijanjikan akan melibatkan sejumlah pakar dari luar manajemen Freeport. “Investigasi diwacanakan selesai tahun 2025 ini,” tulis Freeport, memberikan target waktu untuk penyelesaian penyelidikan.Kontributor Endy Langobelen melaporkan dari Timika, Nofika Dian Nugroho dari Ponorogo, dan Liliek Dharmawan dari Cilacap.
- Kisah orang asli Papua tolak blok minyak terbesar di Indonesia – Tak mau ‘tragedi bom’ 1977 terulang
- ‘Bom-bom itu dijadikan lonceng di balai kampung dan gereja’ – Orang asli Papua di Agimuga dan trauma tentang Peristiwa 1977
- ‘Perusahaan masuk tanpa penjelasan, jadi kami anggap mereka sebagai pencuri’ – Apakah pertambangan sejahterakan orang asli Papua?
Ringkasan
Pada awal September, tujuh pekerja PT Freeport Indonesia terjebak di tambang bawah tanah Grasberg Block Caving akibat luncuran material basah berisi batuan dan lumpur dalam volume besar. Dua pekerja telah ditemukan meninggal dunia, sementara nasib lima pekerja lainnya masih belum jelas hingga kini. Insiden tragis ini terjadi meskipun Freeport mengklaim telah membangun ruang perlindungan bawah tanah senilai jutaan dolar untuk menjamin keselamatan karyawannya di area pertambangan.
Praktisi pertambangan dan mantan pekerja meragukan efektivitas ruang perlindungan dalam menghadapi luncuran material basah yang disebut para ahli tidak sepenuhnya bisa diprediksi volumenya. Metode penambangan block caving yang digunakan Freeport berisiko menciptakan material basah, yang volumenya bisa meningkat signifikan. Insiden ini sedang diinvestigasi oleh Kementerian ESDM dan Freeport sendiri, yang berjanji akan mengusut tuntas untuk mencegah terulangnya tragedi serupa.









