Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Lainnya

PSIS Semarang Terpuruk: Panser Biru Desak Evaluasi Pemilik & CEO

badge-check


					PSIS Semarang Terpuruk: Panser Biru Desak Evaluasi Pemilik & CEO Perbesar

Narapena – Kinerja PSIS Semarang pada musim 2024/2025 kembali menjadi perhatian publik, terutama para pendukung setianya, Panser Biru. Sorotan tajam tidak hanya tertuju pada rentetan hasil minor di lapangan, melainkan juga pada dugaan carut-marut pengelolaan tim yang dinilai semakin meresahkan.

Keresahan ini secara terbuka diungkapkan oleh Ketua Panser Biru, Kepareng, atau yang akrab disapa Wareng, melalui akun Instagram pribadinya, @kepareng_wareng. Wareng menyoroti bahwa selama ini kritik suporter PSIS selalu terfokus pada performa pelatih dan pemain. Namun, ia kini menyadari akar permasalahan yang lebih mendalam justru berada pada tataran manajemen klub.

“Selama ini kalau pemain dan pelatih buruk kita selalu minta mereka evaluasi, ternyata kita sekarang tahu yang buruk adalah pengelolaan dan manajemennya. Kalau sekarang kita minta pemilik saham dan CEO dievaluasi, apakah salah?” tegas Wareng dalam unggahannya, mempertanyakan mengapa evaluasi terhadap jajaran puncak klub tidak dilakukan.

Krisis Internal Tak Kunjung Usai

Sejak bergulirnya musim, Laskar Mahesa Jenar memang tidak hanya terseok-seok di lapangan. Klub PSIS Semarang juga diterpa badai isu internal yang tak berkesudahan, mulai dari keterlambatan pembayaran gaji pemain, seperti kasus Ruxi yang gajinya belum dibayarkan selama sembilan bulan, hingga komunikasi yang dinilai kurang harmonis dengan kelompok suporter setianya. Insiden ini, yang direspons Ketua Panser Biru sebagai “sindiran terhadap manajemen PSIS yang tidak profesional”, semakin memperburuk citra klub.

Merespons situasi tersebut, Panser Biru mengambil langkah tegas dengan memboikot pertandingan kandang PSIS Semarang sejak musim 2024/2025, bahkan saat Laskar Mahesa Jenar masih berlaga di Liga 1. Boikot ini merupakan bentuk desakan agar manajemen klub kebanggaan warga Semarang ini dikelola dengan lebih profesional dan transparan.

Kekecewaan suporter semakin memuncak lantaran surat permintaan audiensi resmi yang dilayangkan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Panser Biru kepada manajemen PSIS hingga kini belum mendapatkan respons. Penantian tanpa jawaban ini mengindikasikan bahwa suara dan aspirasi mereka seakan diabaikan, memperdalam jurang ketidakpercayaan antara klub dan pendukungnya.

Dua Kekalahan Beruntun di Championship

Rentetan isu internal tersebut kian diperparah dengan performa memprihatinkan PSIS Semarang di ajang Championship (sebelumnya Liga 2). Dalam dua laga pembuka, Laskar Mahesa Jenar harus menelan pil pahit kekalahan telak yang memperburuk situasi klub.

Pada Minggu (14/9), PSIS secara mengejutkan dipermalukan Persiku Kudus di kandang sendiri dengan skor telak 4-0. Sepekan kemudian, Sabtu (20/9), giliran Persipura Jayapura yang sukses menaklukkan mereka 2-0 di Stadion Mandala, menambah daftar panjang hasil buruk tim.

Dua kekalahan beruntun ini membuat posisi PSIS Semarang di klasemen semakin terpuruk. Ancaman serius kini membayangi tim kebanggaan Kota Atlas tersebut: jika tren negatif ini terus berlanjut tanpa adanya evaluasi serius, tidak menutup kemungkinan mereka akan turun kasta ke Liga 3 pada musim depan, sebuah skenario yang sangat dihindari oleh para suporter.

Desakan Evaluasi Menyeluruh

Bagi para suporter, permasalahan yang melanda PSIS kini telah melampaui isu taktik pelatih atau performa pemain. Mereka mendesak adanya evaluasi menyeluruh yang mencakup semua lini, mulai dari jajaran direksi, pemilik saham, hingga manajemen inti yang dianggap tidak mampu menjaga stabilitas dan profesionalisme tim.

“Kami hanya ingin PSIS dikelola dengan profesional, bukan setengah hati. Klub ini bukan hanya soal bisnis, tapi juga soal harga diri warga Semarang,” tegas Izul Haq, salah satu anggota Panser Biru, menyuarakan sentimen kolektif bahwa keberadaan klub adalah representasi martabat kota.

Menanti Respons Manajemen

Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pihak manajemen PSIS terkait gelombang kritik keras yang dilontarkan Panser Biru, termasuk pernyataan Wareng. Publik sepak bola Indonesia, khususnya warga Semarang, menanti langkah konkret manajemen dalam merespons tuntutan mendesak dari suporter setianya.

Apabila kondisi pelik ini terus berlarut tanpa adanya inisiatif nyata, bukan hanya posisi PSIS Semarang di klasemen yang terancam kian terpuruk, melainkan juga hubungan fundamental antara klub dan basis suporter setianya akan semakin renggang dan sulit diperbaiki. Kepercayaan suporter adalah aset tak ternilai bagi sebuah klub profesional.

Di tengah situasi genting ini, evaluasi menyeluruh manajemen PSIS tampaknya menjadi satu-satunya jalan yang tak bisa ditunda lagi. Langkah radikal ini krusial agar Laskar Mahesa Jenar dapat segera bangkit dari keterpurukan, mengembalikan kejayaan tim, dan kembali berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia, di mana mereka seharusnya berada.

Ringkasan

Kinerja PSIS Semarang pada musim 2024/2025 menuai kritik keras dari Panser Biru akibat rentetan hasil minor dan dugaan pengelolaan tim yang carut-marut. Ketua Panser Biru, Kepareng, menegaskan bahwa akar masalah utama terletak pada manajemen klub, pemilik saham, dan CEO, bukan hanya pelatih atau pemain. Desakan evaluasi menyeluruh terhadap jajaran puncak ini muncul setelah krisis internal seperti keterlambatan gaji pemain dan komunikasi buruk dengan suporter tidak kunjung usai, bahkan berujung pada boikot pertandingan kandang.

Kondisi tim semakin terpuruk dengan dua kekalahan telak beruntun di Championship, yakni 4-0 dari Persiku Kudus dan 2-0 dari Persipura Jayapura, yang mengancam degradasi ke Liga 3. Panser Biru juga kecewa karena permintaan audiensi mereka belum ditanggapi manajemen PSIS. Oleh karena itu, suporter mendesak evaluasi radikal terhadap semua lini manajemen demi profesionalisme, menyelamatkan klub, dan mengembalikan kepercayaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Patrick Kluivert: Saya Tanggung Jawab Penuh, Ini Pelajaran Pahit

15 October 2025 - 07:34

Buyback Emas Antam Naik Rp 3.000 Rabu (1/10), Kini di Rp 2,084 Juta per Gram

1 October 2025 - 10:11

Harga dan Buyback Emas Antam Hari Ini,Sabtu 27 September 2025: Terpantau Naik Lagi

27 September 2025 - 13:21

Trending on Lainnya