JAKARTA, KOMPAS.com – Presiden Prabowo Subianto mengambil sikap hati-hati terkait target ambisius program Makan Bergizi Gratis (MBG). Beliau menyatakan tidak akan memaksakan pencapaian target 82,9 juta penerima hingga akhir 2025. Keputusan ini diambil menyusul serangkaian Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan yang menimpa penerima program MBG di berbagai daerah.
“Kita tidak bisa memaksakan untuk mempercepat [program ini],” tegas Prabowo saat menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) di Hotel Sultan, Jakarta, Senin (26/9/2025). “Saat ini saja sudah terjadi penyimpangan. Bayangkan jika kita paksakan secepat mungkin, penyimpangan dan kekurangan bisa jadi lebih besar.”
Baca juga: Target MBG Naik Drastis Mulai September: Penerima 82,9 Juta, Anggaran Rp 25 Triliun Per Bulan
Prabowo mengungkapkan bahwa saat ini, program MBG telah menjangkau 30 juta penerima dari total target 82 juta. “Kita mengerti 30 juta adalah sebuah prestasi, tetapi ingat, sasaran kita masih jauh. Sasaran kita adalah 82 juta penerima manfaat,” ujarnya, menekankan bahwa perjalanan masih panjang.
Baca juga: Anggota Komisi IX: Kasus Keracunan MBG Harus Menjadi Bahan Evaluasi Komprehensif
Kesenjangan sekitar 50 juta orang yang belum menerima manfaat MBG ini menjadi perhatian utama Presiden. “Sebagai Presiden, saya masih sangat sedih karena masih ada 50 juta anak-anak dan ibu hamil yang menunggu,” ungkap Prabowo.
Menurut data dari Badan Gizi Nasional (BGN), jumlah kasus keracunan terkait program MBG sejak Januari hingga 25 September 2025 mencapai 5.914 penerima. Khususnya di bulan September, tercatat 2.210 korban, termasuk siswa dan guru.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam siaran persnya menjelaskan bahwa saat ini terdapat 9.615 unit dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani sekitar 31 juta penerima. Dadan juga melaporkan jumlah KLB yang terjadi selama pelaksanaan program, dengan sebagian besar kasus terjadi pada dapur MBG yang baru beroperasi.
“Data menunjukkan bahwa kasus banyak dialami oleh SPPG yang baru beroperasi karena SDM masih membutuhkan jam terbang,” jelas Dadan. Selain kurangnya pengalaman sumber daya manusia, faktor lain seperti kualitas bahan baku yang kurang memadai, kondisi air yang tidak memenuhi syarat, serta pelanggaran Standar Operasional Prosedur (SOP) juga turut berkontribusi terhadap insiden keracunan.
Ringkasan
Presiden Prabowo Subianto menyatakan tidak akan memaksakan pencapaian target ambisius program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebanyak 82,9 juta penerima hingga akhir 2025. Keputusan ini diambil menyusul serangkaian Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan yang menimpa penerima MBG di berbagai daerah. Prabowo menegaskan bahwa program tidak bisa dipaksakan karena penyimpangan sudah terjadi, dan percepatan bisa memperbesar masalah. Saat ini, program baru menjangkau 30 juta penerima dari target 82 juta, dengan 50 juta orang masih menunggu manfaat.
Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat 5.914 kasus keracunan terkait program MBG dari Januari hingga 25 September 2025, dengan 2.210 korban terjadi khusus pada bulan September. Kepala BGN, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa sebagian besar kasus terjadi pada unit dapur MBG (SPPG) yang baru beroperasi karena SDM masih membutuhkan jam terbang. Selain itu, faktor seperti kualitas bahan baku kurang memadai, kondisi air tidak memenuhi syarat, dan pelanggaran SOP juga berkontribusi pada insiden keracunan.





