Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Family And Relationships

Gentle Parenting: Panduan Lengkap dari Pakar + Tips Praktis!

badge-check


					Gentle Parenting: Panduan Lengkap dari Pakar + Tips Praktis! Perbesar

Narapena – – Fenomena menarik kini terjadi di kalangan orang tua: semakin banyak yang meninggalkan pendekatan pola asuh tradisional yang kerap identik dengan kekerasan, beralih ke metode yang lebih humanis dan lembut, atau yang dikenal sebagai gentle parenting.

Salah satu figur publik yang terang-terangan menerapkan gentle parenting adalah aktris peran Nikita Willy. Tak heran, banyak pengikutnya di media sosial kerap melontarkan pertanyaan mengenai esensi dan cara penerapan pola asuh ini. Lantas, sebenarnya, apa itu gentle parenting?

  • Baca juga: Revalina S. Temat Ingin Terapkan Gentle Parenting, Terinspirasi Nurhayati Subakat
  • Baca juga: 5 Tren Parenting Sepanjang 2024, Ada Gentle Parenting
  • Baca juga: Gentle Parenting Bikin Anak Jadi Lembek, Benarkah?

Mengenal Gentle Parenting

Berbeda jauh dari pendekatan tradisional, gentle parenting menonjol sebagai sebuah filosofi pengasuhan yang berpotensi membawa dampak positif signifikan bagi masa depan anak. Dokter anak Karen Estrella, MD, sebagaimana dilansir oleh Cleveland Clinic pada Senin (10/3/2025), menggarisbawahi potensi besar pola asuh ini dalam membentuk generasi yang lebih baik.

Pada intinya, gentle parenting adalah metode pengasuhan yang lembut, dirancang untuk membentuk anak-anak yang percaya diri, mandiri, dan bahagia. Ini dicapai melalui penanaman empati, rasa hormat, pengertian mendalam, serta penetapan batasan yang sehat. Pendekatan ini secara fundamental berpusat pada perkembangan anak yang sesuai dengan usianya, kontras dengan pola asuh tradisional yang lebih banyak berfokus pada sistem hukuman dan penghargaan.

Sebagai ilustrasi, dalam pola asuh tradisional, perilaku baik anak kerap dibalas dengan hadiah, seperti aktivitas menyenangkan, camilan, atau pujian positif. Namun, ketika anak melakukan kesalahan, reaksi yang muncul seringkali berupa hukuman, bahkan tak jarang melibatkan kekerasan fisik – sebuah tindakan yang sejatinya tidak dapat dibenarkan dan sangat dihindari dalam setiap bentuk pengasuhan.

  • Baca juga: 3 Manfaat Lazy Parenting, Anak Lebih Cepat Mandiri
  • Baca juga: 5 Tips Parenting Menghadapi Anak Gen Beta
  • Baca juga: Perencanaan Finansial Menjawab Kekhawatiran Orangtua Milenial di Era FOMO Parenting

Sebaliknya, gentle parenting bergeser dari paradigma hukuman dan penghargaan. Ia justru menyoroti pentingnya peningkatan kesadaran diri anak dan pemahaman mendalam tentang perilaku mereka sendiri. “Idenya adalah untuk menjadi seperti pelatih bagi anak daripada pemberi hukuman,” jelas dr. Estrella, menekankan peran orang tua sebagai pembimbing, bukan penghukum.

Pola Asuh yang Kolaboratif dan Lembut

Mengutip Parents, gentle parenting sering pula digambarkan sebagai sebuah pendekatan pengasuhan yang bebas dari unsur-unsur negatif seperti rasa malu, tindakan menyalahkan, atau hukuman. Ini merupakan pilar utama yang membedakannya dari praktik pengasuhan terdahulu.

Esensi dari pola asuh ini terletak pada konsep kemitraan atau kerja sama. Dalam model kolaboratif ini, baik orang tua maupun anak memiliki peran aktif, menciptakan sebuah dinamika keluarga yang seimbang dan saling menghargai. Sejalan dengan namanya, pendekatan ini mengedepankan kelembutan dalam setiap aspek pembimbingan anak. Orang tua yang mempraktikkan gentle parenting akan membimbing buah hati mereka dengan penuh kasih sayang, bukan dengan gaya yang otoriter atau tegas.

  • Baca juga: Kala Perilaku Prososial di Indonesia Sepaket dengan Mom-Shaming dalam Dunia Parenting…
  • Baca juga: Tips dan Trik Digital Parenting
  • Baca juga: Gaya Parenting Berdasarkan Zodiak, Mana yang Terbaik?

Danielle Sullivan, seorang pelatih pengasuhan (parenting coach), menjelaskan lebih lanjut, “Gentle parenting adalah gaya pengasuhan di mana orang tua tidak memaksa anak untuk berperilaku baik dengan cara menghukum atau mengendalikan.” Sebaliknya, ia menambahkan, orang tua akan memanfaatkan koneksi emosional yang kuat, komunikasi yang terbuka, serta metode demokratis lainnya untuk mencapai keputusan bersama sebagai sebuah keluarga.

Pola asuh yang lembut ini terbangun di atas empat elemen fundamental yang saling melengkapi, yaitu empati, rasa hormat, pengertian, dan batasan yang jelas. Keempat pilar ini bekerja sama untuk memberdayakan anak.

Gentle parenting mengajarkan anak bahwa mereka dapat aktif di dunia, menetapkan batasan mereka, memercayai kebutuhan mereka sendiri, dan menyuarakan pendapat mereka,” pungkas Sullivan, menyoroti bagaimana pola asuh ini membentuk individu yang percaya diri dan berdaya.

Ringkasan

Gentle parenting adalah pendekatan pola asuh humanis yang semakin banyak diterapkan, kontras dengan metode tradisional yang kerap mengandalkan hukuman atau penghargaan. Filosofi ini bertujuan membentuk anak yang percaya diri, mandiri, dan bahagia melalui penanaman empati, rasa hormat, pengertian mendalam, serta penetapan batasan yang sehat. Dokter anak Karen Estrella, MD, menjelaskan bahwa pola asuh ini menjadikan orang tua sebagai pelatih bagi anak, bukan sebagai penghukum.

Pendekatan kolaboratif ini bebas dari unsur negatif seperti rasa malu, menyalahkan, atau hukuman, melainkan mengedepankan kelembutan dalam membimbing anak. Gentle parenting berlandaskan pada empat pilar fundamental: empati, rasa hormat, pengertian, dan batasan yang jelas. Ini memberdayakan anak agar dapat aktif di dunia, menetapkan batasan, memercayai kebutuhannya, dan menyuarakan pendapatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Cara Mencegah Trauma dan Kekerasan saat Persalinan

8 October 2025 - 09:29

4 Manfaat Menerapkan Gentle Parenting, Anak Lebih Berempati

7 October 2025 - 11:59

El Rumi Lamar Syifa Hadju Berlatar Pegunungan Alpen di Lauterbrunnen

5 October 2025 - 01:37

Fakta di Balik Perceraian Pratama Arhan dan Azizah Salsha

1 October 2025 - 06:26

Selamat! Istri Billy Syahputra Melahirkan Anak Pertama Laki-Laki

30 September 2025 - 11:16

Trending on Family And Relationships