Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Family And Relationships

Efek Perceraian Orang Tua: Pengaruhi Cinta & Hubungan Anak?

badge-check


					Efek Perceraian Orang Tua: Pengaruhi Cinta & Hubungan Anak? Perbesar

Perceraian orang tua seringkali meninggalkan luka mendalam pada anak, memicu serangkaian dampak psikologis mulai dari kebingungan hingga perilaku menarik diri. Lebih jauh lagi, perpisahan kedua orang tua ternyata dapat memiliki implikasi signifikan terhadap kehidupan romantis anak saat mereka beranjak dewasa, membentuk pandangan mereka tentang cinta dan pernikahan.

Menurut psikolog anak, Gloria Siagian, M.Psi., dari Mykidz Clinic BSD, Kabupaten Tangerang, “Dampak ini bisa memengaruhi karena anak belajar tentang hubungan untuk pertama kalinya dari orang tua.” Ketika anak menyaksikan orang tua mereka berpisah, pengalaman tersebut dapat terpatri kuat dalam pikiran mereka. Fenomena ini berpotensi membuat anak menganggap bahwa pernikahan yang berakhir dengan perceraian adalah suatu hal yang normal.

Dari dinamika hubungan orang tuanya, anak dapat mengembangkan berbagai sikap terhadap romansa. “Bisa jadi anak tidak percaya (dengan hubungan romantis), bisa jadi bucin (budak cinta), bisa jadi juga enggak percaya pada pernikahan,” jelas Gloria pada Kompas.com, Senin (10/3/2025).

Baca juga: Berkaca dari Perceraian Paula-Baim, Begini Dampak Psikologisnya pada Anak

Sikap ‘bucin’ atau budak cinta, misalnya, seringkali muncul karena anak haus akan afeksi atau kasih sayang dari lawan jenis. Hal ini dapat terjadi, misalnya, ketika seorang anak perempuan mengalami kekurangan afeksi dari sang ayah yang tidak lagi tinggal bersamanya setelah perceraian. Kebutuhan akan afeksi dari sosok ayah yang tidak terpenuhi di masa kecil, seringkali mendorong anak perempuan tersebut mencari pemenuhan kasih sayang dari laki-laki lain saat dewasa.

“Misalnya orang tuanya cerai dan anak perempuan enggak pernah ketemu ayahnya lagi, dan dia tinggal sama ibunya. Ini berhubungan dengan fenomena fatherless,” terang Gloria, menyoroti dampak kehilangan sosok ayah dalam perkembangan emosional anak perempuan.

Ketika memasuki fase hubungan asmara saat dewasa, anak-anak yang tumbuh dari keluarga bercerai mungkin menunjukkan pola tertentu. Ada kemungkinan mereka cenderung selalu menikah dan kemudian bercerai, mengulang siklus yang pernah mereka saksikan. Di sisi lain, bisa juga anak menjadi enggan untuk melangkah ke jenjang pernikahan dengan pasangannya, diliputi rasa takut akibat trauma perceraian yang dialami orang tua mereka.

Meski kita tidak bisa mencegah perceraian terjadi, Gloria menegaskan bahwa ada upaya yang bisa dilakukan. “Kita memang tidak bisa menghentikan orang untuk bercerai, tapi kita bisa bantu anak-anak untuk memproses perceraian itu,” ujarnya.

Baca juga: Belajar dari Perceraian Asri Welas, Ketahui 5 Tanda Pernikahan Tidak Sehat

Oleh karena itu, Gloria menyarankan agar orang tua yang mendapatkan hak asuh anak untuk secara perlahan dan bijaksana menjelaskan alasan di balik perpisahan mereka. Proses ini penting untuk membuka ruang diskusi, di mana orang tua dapat menampung dan memvalidasi perasaan anak. “Paling tidak, ada proses diskusi. Ada proses orang tuanya menampung apa yang dirasakan anak. Ini membantu anak untuk memproses rasa kedukaan dan kehilangannya,” pungkasnya, menekankan pentingnya komunikasi terbuka dalam membantu anak melewati masa sulit ini.

Ringkasan

Perceraian orang tua sering meninggalkan dampak psikologis mendalam yang memengaruhi pandangan anak terhadap cinta dan pernikahan di masa dewasa. Anak belajar tentang hubungan dari orang tua, sehingga perpisahan dapat membuat mereka menganggap perceraian normal, tidak percaya pada romansa, atau justru menjadi “bucin” karena haus afeksi, seperti fenomena fatherless pada anak perempuan.

Dampak ini bisa menyebabkan anak mengulang siklus perceraian atau sebaliknya, menjadi enggan menikah akibat trauma orang tua mereka. Meskipun perceraian tidak dapat dicegah, orang tua dapat membantu anak memprosesnya. Penting untuk menjelaskan alasan perpisahan secara bijaksana dan membuka ruang diskusi untuk menampung serta memvalidasi perasaan anak, membantu mereka melewati rasa duka dan kehilangan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Cara Mencegah Trauma dan Kekerasan saat Persalinan

8 October 2025 - 09:29

4 Manfaat Menerapkan Gentle Parenting, Anak Lebih Berempati

7 October 2025 - 11:59

El Rumi Lamar Syifa Hadju Berlatar Pegunungan Alpen di Lauterbrunnen

5 October 2025 - 01:37

Fakta di Balik Perceraian Pratama Arhan dan Azizah Salsha

1 October 2025 - 06:26

Selamat! Istri Billy Syahputra Melahirkan Anak Pertama Laki-Laki

30 September 2025 - 11:16

Trending on Family And Relationships