Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Efek Pasar Saham AS ke Indonesia: Analis Ungkap Dampaknya!

badge-check


					Efek Pasar Saham AS ke Indonesia: Analis Ungkap Dampaknya! Perbesar

JAKARTA – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China kembali mencuat, memicu kekhawatiran serius di pasar saham global. Presiden AS Donald Trump secara mengejutkan mengumumkan rencana untuk memberlakukan tarif tambahan hingga 100% pada seluruh impor dari China. Tak hanya itu, langkah agresif ini juga meliputi penerapan kontrol ekspor terhadap berbagai perangkat lunak strategis yang dijadwalkan mulai 1 November 2025.

Kebijakan kontroversial ini secara instan memperburuk hubungan geopolitik antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, menyebabkan gejolak signifikan di pasar keuangan global. Pada perdagangan Jumat (10/10/2025), bursa saham AS Wall Street mengalami kejatuhan drastis, dengan total nilai pasar yang menyusut hingga sekitar US$ 2 triliun. Ketiga indeks utama saham AS terpuruk pasca pernyataan Trump; Dow Jones Industrial Average anjlok 878,82 poin (1,90%) menjadi 45.479,60, Indeks S&P 500 ambles 182,60 poin (2,71%) ke 6.552,51, dan Nasdaq Composite merosot 820,20 poin (3,56%) ke posisi 22.204,43.

Efek domino dari pelemahan bursa saham AS ini diproyeksikan turut mengguncang pasar saham Indonesia. Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement and Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas, menjelaskan bahwa meskipun fundamental ekonomi Indonesia tergolong solid, pasar saham domestik tak luput dari dampak gejolak yang terjadi di AS.

Menurut Chory, pada Minggu (12/10/2025), Indonesia memang dapat mempertahankan fundamental ekonominya, namun tetap ‘ketularan panik’ dari AS. Faktor pemicu utamanya adalah mekanisme global fund flow dan perubahan risk appetite atau sentimen risiko. Ia merinci bahwa investor institusi global, seperti BlackRock, Vanguard, dan Fidelity, memiliki portofolio investasi di berbagai negara, termasuk Indonesia. Ketika pasar AS anjlok tajam, nilai portofolio mereka menyusut, memaksa mereka untuk melakukan margin call atau rebalancing aset. Akibatnya, mereka terpaksa menjual aset di emerging market seperti Indonesia, bukan karena fundamental ekonomi Indonesia yang buruk, melainkan untuk memenuhi kebutuhan likuiditas guna menutupi posisi di AS.

Lebih lanjut, Chory menyoroti adanya faktor risk-off sentiment. Di tengah kepanikan pasar global, investor institusi cenderung mengalihkan dana mereka ke aset safe haven seperti dolar AS, US Treasury, dan emas. Kondisi ini secara otomatis mendorong mereka untuk menarik diri dari aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Tak heran, IHSG kerap ikut terkoreksi, meskipun pemicu berita buruk berasal dari AS dan tidak berkaitan langsung dengan kondisi ekonomi Indonesia.

Chory juga menegaskan bahwa pergerakan pasar tidak semata-mata didasarkan pada kepastian, melainkan sangat dipengaruhi oleh persepsi dan ekspektasi. Ia menjelaskan bahwa tarif dan perang dagang secara langsung membentuk prospek pertumbuhan global serta potensi keuntungan (earnings) perusahaan. Sebagai contoh, jika Trump benar-benar memberlakukan kenaikan tarif pada barang impor China, ini akan memicu kenaikan biaya bahan baku, menekan laba perusahaan AS, mengganggu rantai pasok (supply chain), serta menurunkan volume perdagangan global, yang pada akhirnya berdampak pada negara berkembang. Oleh karena itu, meskipun belum ada kepastian, pasar segera memperhitungkan (price in) skenario terburuk. Saat muncul indikasi eskalasi, investor besar memilih posisi aman dengan melakukan aksi jual, baru kemudian membeli kembali ketika situasi dinilai lebih kondusif. Selain itu, banyaknya sistem algo-trading dan fund makro global yang diprogram untuk bereaksi terhadap berita utama atau kata kunci seperti ‘tariff‘ dan ‘trade war‘ secara otomatis memicu posisi jual segera setelah sentimen negatif dari AS muncul.

Chory menyimpulkan bahwa volatilitas pasar bukan hanya tentang keseriusan kebijakan Trump, melainkan juga reaksi sistemik dari algoritma dan keputusan investor besar. Meskipun Indonesia tidak memiliki hubungan langsung dengan isu internal AS, pasar global saat ini telah terintegrasi dengan sangat kuat. Akibatnya, ketika pasar saham AS mengalami guncangan, efek rambatannya secara otomatis akan terasa di emerging market, terutama melalui aliran dana asing dan perubahan risk appetite global.

Ringkasan

Ketegangan antara Amerika Serikat dan China meningkat setelah Presiden Donald Trump mengumumkan rencana penerapan tarif tambahan hingga 100% pada impor dari China dan kontrol ekspor. Kebijakan kontroversial ini memicu kejatuhan drastis di bursa saham AS Wall Street pada 10 Oktober 2025, dengan total nilai pasar menyusut sekitar US$2 triliun. Dampak pelemahan bursa saham AS ini diproyeksikan turut mengguncang pasar saham Indonesia, meskipun fundamental ekonomi domestik tergolong solid.

Analis Chory Agung Ramdhani menjelaskan bahwa pasar saham Indonesia terdampak melalui mekanisme *global fund flow* dan perubahan sentimen risiko investor. Investor institusi global terpaksa menjual aset di pasar berkembang seperti Indonesia untuk menutupi kerugian di AS atau beralih ke aset *safe haven* seperti dolar AS. Selain itu, pasar juga bereaksi cepat terhadap persepsi eskalasi dan diaktifkan oleh sistem *algo-trading* yang memicu aksi jual otomatis, menunjukkan integrasi pasar global yang sangat kuat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance