Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

IHSG Masih Rapuh, Cermati Saham Pilihan Analis Jelang Akhir Tahun 2025

badge-check


					IHSG Masih Rapuh, Cermati Saham Pilihan Analis Jelang Akhir Tahun 2025 Perbesar

Narapena  JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dinilai masih kurang bertenaga meski sempat beberapa kali mencetak rekor tertinggi baru (all time high/ATH) pada September 2025. 

Lemahnya fundamental IHSG terlihat dari aksi jual investor asing yang terus berlanjut. Hingga akhir perdagangan Jumat pekan lalu, investor asing tercatat melakukan net sell Rp 56,93 triliun sejak awal tahun atau secara year to date (ytd).

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai secara historis IHSG di kuartal IV kerap mencatat kinerja positif. 

Antisipasi Rilis Kinerja Emiten dan Aksi Window Dressing, Cek Saham Pilihan Analis

Rata-rata, IHSG naik 1% pada Oktober, cenderung stagnan pada November, dan menguat 2,3%-3,1% pada Desember. Kombinasi ini menghasilkan return kuartalan 2%-4% dengan rata-rata sekitar 3%.

“Tradisi window dressing tetap menjadi pendorong utama IHSG menjelang akhir tahun,” kata Liza dalam risetnya, Jumat (3/10/2025).

Menurut Liza, IHSG juga sudah mendapat katalis positif dari stimulus ekonomi, injeksi likuiditas perbankan, tren penurunan suku bunga, serta rebalancing MSCI.

Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus, sependapat bahwa IHSG masih berpeluang menguat di sisa tahun. Faktor pendorong utamanya adalah window dressing dan rilis kinerja kuartalan emiten, khususnya bank besar.

IHSG Menuju 8.600, Apa Strategi Investor di Tengah Reli Rapuh?

“Dengan tambahan sentimen global, terutama jika The Fed memangkas suku bunga di Oktober dan Desember, potensi window dressing pada akhir tahun ini semakin besar,” jelas Nico.

Kinerja emiten pada kuartal IV-2025 akan menjadi penentu kekuatan IHSG. Saham-saham unggulan (blue chips) berpeluang kembali bangkit jika terlihat perbaikan kinerja. 

Managing Director Research & Digital Production Samuel Sekuritas Indonesia, Harry Su, memperkirakan emiten bank big caps seperti BBCA dan BBNI akan mencatatkan laba positif secara kuartalan, ditopang perbaikan net interest margin.

Mid Caps Jadi Incaran, Analis Beberkan Strategi Jitu Sambut Window Dressing

Namun, Nico mengingatkan bahwa perbaikan kinerja tetap bergantung pada sektor, fundamental, dan valuasi masing-masing emiten. “Jika kenaikan harga saham blue chips sudah terlalu tinggi, perlu diwaspadai agar tidak berbalik turun,” ujarnya.

Untuk strategi trading, Liza merekomendasikan saham JPFA dengan target harga Rp 2.330, ICBP Rp 11.450, dan SSMS Rp 2.400 per saham. Selain itu, BBRI dengan target Rp 4.720 dan BMRI Rp 6.300 per saham. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance