Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa proses finalisasi perjanjian kerja sama dagang dengan Peru berlangsung lebih cepat dibandingkan dengan negosiasi bersama negara-negara mitra lainnya. Kecepatan ini, menurut Budi, didorong oleh volume total perdagangan yang belum terlalu besar antara kedua negara, yang seringkali mempermudah proses kesepakatan.
“Sebagai perbandingan, negosiasi dengan Uni Eropa membutuhkan waktu hingga 10 tahun untuk tuntas. Dengan Kanada, kami berhasil menyelesaikannya dalam dua tahun tujuh bulan, sementara dengan Peru hanya 14 bulan,” jelas Budi saat ditemui di kawasan Cikarang, Jawa Barat, pada Selasa, 30 September 2025. Pernyataan ini secara gamblang menunjukkan efisiensi dalam menjalin kemitraan dengan negara yang memiliki rekam jejak perdagangan yang relatif baru.
Berdasarkan data resmi dari Kementerian Perdagangan, pada tahun 2023, total nilai perdagangan antara Indonesia dan Peru mencapai angka US$ 444,3 juta. Angka ini mencerminkan peningkatan signifikan sebesar 19,8 persen dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Lebih rinci, ekspor Indonesia ke Peru pada tahun 2023 tercatat sebesar US$ 367,4 juta, sementara impor dari Peru mencapai US$ 77 juta. Dengan demikian, Indonesia berhasil mencatatkan surplus perdagangan yang substansial sebesar US$ 290,4 juta dengan Peru pada tahun yang sama, sebuah indikator positif bagi neraca perdagangan nasional.
Menanggapi kemudahan dalam menjalin kerja sama perdagangan tersebut, Budi Santoso menyatakan bahwa hubungan dagang yang produktif lebih mudah dibangun dengan negara-negara yang belum memiliki ikatan perdagangan yang kuat sebelumnya. Oleh karena itu, ia berambisi untuk memperluas jangkauan kerja sama perdagangan Indonesia ke negara-negara yang belum memiliki rekam jejak transaksi besar, khususnya di kawasan Amerika Latin dan Amerika Selatan, sebagai langkah strategis diversifikasi pasar.
Hingga saat ini, Budi memaparkan bahwa Indonesia telah berhasil mengimplementasikan sekitar 20 perjanjian dagang. Selain itu, 10 perjanjian lainnya sedang dalam proses ratifikasi, dan 16 perjanjian masih dalam tahap negosiasi, menunjukkan dinamika agresif diplomasi dagang Indonesia di kancah global yang bertujuan untuk membuka lebih banyak peluang pasar.
Salah satu pencapaian penting terbaru adalah penandatanganan Indonesia-Peru Comprehensive Economic Partnership Agreement (IP CEPA) pada 11 Agustus 2025. Selain itu, Indonesia juga baru saja menandatangani perjanjian kerja sama komprehensif dengan Kanada melalui Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA) di Ottawa, Ontario, pada 24 September 2025. Tidak hanya itu, pemerintah juga telah menyelesaikan perundingan dagang dengan Uni Eropa melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) pada 23 September 2025 di Bali, dengan target penandatanganan pada akhir tahun ini. Budi menegaskan bahwa kerja sama dengan Kanada ini tidak hanya memperluas pasar di Kanada, tetapi juga membuka akses ke seluruh wilayah Amerika Utara, memperkuat posisi ekonomi Indonesia.
Budi Santoso menandai penyelesaian IEU-CEPA dan penandatanganan ICA-CEPA sebagai tonggak penting yang akan memperkuat posisi perdagangan Indonesia di panggung global. Ia secara khusus menekankan relevansi langkah strategis ini, terutama di tengah kondisi geopolitik dan lanskap perdagangan dunia yang terus berkembang dan penuh tantangan saat ini, menjadikan Indonesia pemain yang lebih disegani.
Dengan Kanada, total perdagangan Indonesia pada tahun 2024 mencapai US$ 3,5 miliar. Melalui implementasi perjanjian dagang yang baru, Budi Santoso menaruh harapan besar bahwa nilai perdagangan ini dapat melonjak hingga dua kali lipat, mengukuhkan hubungan ekonomi kedua negara dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian nasional.
Pilihan Editor: Putaran Pertama Negosiasi Indonesia-Kanada
Ringkasan
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa perjanjian dagang Indonesia-Peru (IP CEPA) dapat disepakati dalam 14 bulan karena volume perdagangan kedua negara yang belum terlalu besar, berbeda dengan negosiasi dengan Uni Eropa atau Kanada. Pada tahun 2023, total nilai perdagangan Indonesia-Peru mencapai US$ 444,3 juta, di mana Indonesia mencatat surplus sebesar US$ 290,4 juta.
Keberhasilan ini mendorong Budi Santoso untuk memperluas kerja sama perdagangan ke negara-negara dengan ikatan dagang baru, khususnya di Amerika Latin. Indonesia juga baru saja menandatangani Indonesia-Canada CEPA (ICA-CEPA) dan menyelesaikan negosiasi Indonesia-European Union CEPA (IEU-CEPA), langkah strategis yang bertujuan memperkuat posisi perdagangan Indonesia di kancah global dan membuka akses pasar yang lebih luas.









