Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Finance

Suku Bunga Turun: Peluang Cuan Obligasi Korporasi?

badge-check


					Suku Bunga Turun: Peluang Cuan Obligasi Korporasi? Perbesar

Narapena – JAKARTA. Prospek obligasi korporasi diproyeksikan tetap cemerlang, terutama setelah sinyal penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed) dan Bank Indonesia (BI). Kondisi ini menciptakan momentum positif yang menarik bagi para investor di pasar keuangan domestik.

Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menjelaskan bahwa keputusan pemangkasan suku bunga berdampak menguntungkan bagi obligasi korporasi. Penurunan suku bunga acuan secara langsung menekan yield benchmark, menjadikannya lebih kompetitif. Selain itu, ekspektasi pemotongan suku bunga lanjutan di masa depan bertindak sebagai katalisator kuat, yang berpotensi mendorong peningkatan penawaran dan permintaan obligasi korporasi.

“Obligasi korporasi masih sangat menarik. Yield yang ditawarkan tetap cukup tinggi, harganya cenderung stabil, dan ada potensi besar untuk meraih capital gain seiring berjalannya siklus penurunan suku bunga,” ungkap David kepada Kontan pada Selasa (23/9/2025), memberikan gambaran optimistis.

Sebagai indikasi aktivitas pasar yang dinamis, Bank Victoria tercatat telah menerbitkan obligasi senilai Rp 750 miliar, menawarkan bunga sebesar 8,25% per tahun.

David Sumual menambahkan, kinerja obligasi korporasi berdenominasi rupiah telah menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencapai 11,2% secara tahunan (YoY) di tahun 2024 dan melesat 48,31% YoY hingga semester I-2025. Angka ini secara jelas mengindikasikan tingginya minat terhadap instrumen investasi ini, bahkan di tengah ketidakpastian ekonomi global yang terus membayangi.

Melihat ke depan, David menguraikan sejumlah sentimen positif yang menopang daya tarik obligasi korporasi. Ini meliputi tingginya kebutuhan refinancing dari berbagai korporasi, pemangkasan suku bunga oleh BI dan The Fed yang akan menurunkan biaya penerbitan obligasi dan premi risiko, pelonggaran kebijakan moneter yang mendorong leverage korporasi, serta pertumbuhan ekonomi yang tetap stabil. Namun, ia juga mencatat sentimen negatif yang perlu diwaspadai, yaitu belum pulihnya ekonomi dan perdagangan global sepenuhnya, yang dapat memengaruhi ekspektasi kinerja korporasi.

David lebih lanjut memproyeksikan bahwa rata-rata kupon obligasi korporasi dengan tenor tiga tahun dan peringkat AAA bisa mencapai 6,6%, sementara untuk peringkat BBB, rata-ratanya sekitar 10,5%. Angka-angka ini dinilai lebih menarik dibandingkan obligasi pemerintah, ditambah lagi adanya potensi capital gain dari kenaikan harga obligasi di masa mendatang.

“Prospek return obligasi korporasi masih sangat menjanjikan dan patut dipertimbangkan oleh para investor,” tegas David, mengakhiri pandangannya.

Selain itu, lembaga pemeringkat Pefindo juga baru-baru ini memberikan peringkat idAA untuk Bumi Serpong Damai (BSDE) dan obligasinya, menandakan kepercayaan pasar terhadap kualitas kredit penerbit tertentu.

Dari sudut pandang analis lain, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), Imam Gunadi, menyoroti bahwa obligasi korporasi umumnya memang menawarkan kupon yang lebih tinggi dibandingkan Surat Utang Negara (SUN). Kendati demikian, ia mengingatkan bahwa risiko yang melekat pada instrumen ini sangat bergantung pada kualitas kredit penerbit. Oleh karena itu, investor disarankan untuk senantiasa memperhatikan peringkat obligasi sebelum mengambil keputusan investasi.

Imam menambahkan bahwa obligasi merupakan instrumen yang fleksibel dan dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu investasi apa pun, asalkan strategi yang diterapkan disesuaikan dengan horizon waktu tersebut. Bagi investor dengan horison jangka pendek, instrumen yang relatif aman adalah obligasi negara bertenor pendek atau obligasi korporasi bertenor pendek yang dibeli langsung di pasar perdana.

Dengan menerapkan strategi “buy and hold” hingga jatuh tempo, investor dapat secara signifikan mengurangi risiko volatilitas harga yang kerap terjadi di pasar sekunder. Namun, strategi ini mensyaratkan bahwa penerbit obligasi korporasi harus memiliki kualitas kredit yang solid dan berada pada level investment grade.

Sementara itu, bagi investor jangka panjang yang aktif bertransaksi di pasar sekunder, posisi harga obligasi menjadi faktor krusial untuk diperhatikan. Pembelian pada level discount atau par, kata Imam, akan memberikan peluang yield yang jauh lebih menarik dan menguntungkan.

Ringkasan

Prospek obligasi korporasi diproyeksikan cemerlang seiring sinyal penurunan suku bunga oleh The Federal Reserve dan Bank Indonesia, menciptakan momentum positif bagi investor. Kondisi ini menguntungkan obligasi korporasi dengan menawarkan yield yang tetap tinggi, harga cenderung stabil, dan potensi capital gain di tengah siklus penurunan suku bunga. Kinerja obligasi korporasi berdenominasi rupiah juga menunjukkan pertumbuhan signifikan, mencapai 48,31% secara tahunan hingga semester I-2025.

Meskipun prospek return sangat menjanjikan, analis mengingatkan bahwa risiko obligasi korporasi sangat bergantung pada kualitas kredit penerbit, sehingga investor wajib memperhatikan peringkat obligasi. Untuk strategi jangka pendek, pendekatan “buy and hold” obligasi negara atau korporasi bertenor pendek di pasar perdana dapat mengurangi volatilitas harga. Sementara itu, investor jangka panjang di pasar sekunder disarankan membeli pada level diskon atau par untuk mendapatkan yield yang lebih menarik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

15 October 2025 - 18:26

Vivo Kehabisan BBM: SPBU di Mana Saja yang Terdampak?

15 October 2025 - 18:05

Harga Emas Meroket, Saham Tambang Emas Ini Siap Naik Kelas

15 October 2025 - 06:45

EMAS Buka Suara: Kepemilikan Saham Boy Thohir Jadi Sorotan!

14 October 2025 - 23:42

Utang Pemerintah: Realisasi September Lampaui Target? Cek Faktanya!

14 October 2025 - 17:55

Trending on Finance