Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Society Culture And History

Misteri Foto Tersembunyi 1965: Pawai PKI dan 2 Jenazah Anonim

badge-check


					Misteri Foto Tersembunyi 1965: Pawai PKI dan 2 Jenazah Anonim Perbesar

Enam dekade telah berlalu sejak peristiwa kelam 1965. Seiring berjalannya waktu, berbagai penelitian terus bermunculan, mencoba menawarkan analisis dan perspektif baru yang menantang narasi tunggal yang selama ini digaungkan oleh pemerintah Orde Baru. Dua akademisi, Geoffrey Robinson dan Douglas Kammen, mengambil langkah serupa dalam buku terbaru mereka. Namun, kali ini, mereka memilih medium yang berbeda: visual.

Robinson dan Kammen mengumpulkan ratusan, bahkan mungkin ribuan, foto dari rentang waktu awal 1960-an hingga 1970-an untuk buku mereka yang berjudul Exposed: A Visual History of the Destruction of the Indonesian Left (Exposed: Sejarah Visual Penghancuran Kaum Kiri Indonesia). Buku ini dijadwalkan rilis tahun ini dan diharapkan memberikan perspektif segar tentang tragedi tersebut.

Geoffrey Robinson meyakini bahwa foto-foto ini adalah “arsip sejarah penting” yang mampu menggambarkan dinamika politik yang berujung pada salah satu genosida terburuk di abad ke-20.

“Buku ini dibuat dengan semangat untuk mengungkap apa yang selama ini disembunyikan, dan membuka kemungkinan pemahaman sejarah yang lebih mendalam,” ungkap Geoffrey kepada BBC News Indonesia. Ia menambahkan, “Bahkan mungkin juga keadilan bagi para korban.”

Beberapa foto yang ditemukan menunjukkan ratusan orang yang ditahan di Kraton Surakarta pada Desember 1965. Mereka diduga memiliki keterkaitan dengan PKI atau organisasi massa ‘Kiri’ lainnya. Foto lain memperlihatkan pemandangan serupa: ratusan orang di sebuah lapangan di Jawa Tengah, ditangkap oleh militer karena dianggap sebagai bagian dari kelompok Kiri.

Namun, buku ini tidak hanya berisi dokumentasi para korban. Geoffrey dan Douglas juga berhasil mendapatkan foto-foto yang menyingkap elite-elite politik yang berkuasa saat itu, termasuk tokoh militer, pemimpin PKI, hingga Presiden Sukarno.

Salah satu foto memperlihatkan Ketua PKI, DN Aidit, yang ditangkap oleh tentara dengan wajah tertutup kain. Foto ini diyakini diambil sebelum eksekusi Aidit di Jawa Tengah pada akhir tahun 1965.

Douglas Kammen menjelaskan bahwa foto-foto ini adalah jendela yang memungkinkan kita untuk sejenak menengok kembali masa lalu. “Tentang apa yang mereka [negara dan militer] sembunyikan dan apa yang terungkap secara tidak sengaja melalui foto-foto yang ada,” jelasnya.

Minimnya Visualisasi yang Lengkap tentang 1965

Keterkaitan Geoffrey Robinson dengan Peristiwa 1965 dimulai pada pertengahan 1970-an. Ia terinspirasi oleh dua seniornya di Universitas Cornell, Benedict Anderson dan George Kahin. Anderson, bersama Ruth McVey, menulis riset kontroversial tentang penyebab kekacauan 1965, A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia, yang dikenal sebagai ‘Cornell Paper’. Riset ini menuding adanya campur tangan militer di balik peristiwa tersebut, dan akibatnya, Anderson dicekal masuk ke Indonesia. Sementara itu, Kahin dikenal melalui bukunya Nationalism and Revolution in Indonesia (1952) dan pendirian Cornell Modern Indonesia Project (CMIP), yang menjadi wadah penelitian bagi para akademisi asing tentang Indonesia, terutama di bidang politik dan sosial.

Geoffrey Robinson memandang Indonesia sebagai “negara yang indah.” Keindahan itu ia rasakan saat pertama kali menginjakkan kaki di Bali.

“Lalu saya sadar bahwa Bali, di balik segala keindahan alamnya, ada rahasia, ada peristiwa buruk yang menimpa masyarakat. Menggambarkan juga, pada waktu yang sama, tentang betapa politik Indonesia berubah secara drastis,” ungkapnya.

Rahasia kelam tersebut kemudian diungkapkan Geoffrey dalam bukunya yang berjudul The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali (1995). Buku ini menjelaskan bagaimana politik membentuk wajah Bali, menelusuri sejarah kehidupan masyarakat Bali dari masa kolonial Belanda hingga Peristiwa 1965.

Terkait dengan konteks 1965, Geoffrey menulis bahwa “sekitar 5% penduduk Bali yang kurang dari dua juta jiwa [saat itu] menjadi korban pembantaian massal.” Kengerian di Bali menjadi titik kelam dalam sejarah modern.

Sejak saat itu, Geoffrey mencurahkan perhatiannya pada Tragedi 1965 dan Indonesia secara keseluruhan. Ia melihat daya rusak peristiwa ini setara dengan pembantaian politik global lainnya, seperti di Rwanda, Armenia, hingga Kamboja.

Diperkirakan antara 500.000 hingga 1 juta orang menjadi korban 1965. Mereka dibunuh, dipenjara, dan dihilangkan secara paksa.

Setelah tumbangnya rezim Soeharto, upaya untuk mengungkap Peristiwa 1965 secara lebih jelas, termasuk penyebab terjadinya tragedi ini, mulai bermunculan melalui penelitian, publikasi, dan film dokumenter.

Namun, Geoffrey merasa masih ada kekurangan.

“Bukti visual tentang 1965 sangat minim dan tidak lengkap. Dan ini adalah kelemahan yang, menurut kami, telah berkontribusi pada pengetahuan soal 1965 itu sendiri yang relatif rendah di kalangan umum,” tegasnya. Ia menambahkan, “Di lain sisi, kesalahpahaman atas peristiwa ini juga sering ditemukan.”

Niat untuk memberikan dimensi “baru” pada Peristiwa 1965 pun tertanam kuat di benaknya. Bersama Douglas Kammen, seorang akademisi dan pengajar di National University of Singapore, Geoffrey memulai langkah untuk merealisasikan apa yang ia definisikan sebagai “sejarah visual.”

Geoffrey dan Douglas membutuhkan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan proyek pengarsipan visual 1965 ini.

Proyek Exposed dimulai sekitar tahun 2017. Foto-foto diperoleh dari berbagai sumber, termasuk pemerintah, militer, jurnalis lokal dan internasional, media massa, organisasi sipil, hingga seniman. Linimasa yang disorot dibagi menjadi tiga periode: sebelum 1965, saat 1965, dan setelah 1965.

Masing-masing sumber foto memiliki karakteristik yang berbeda. Geoffrey mencontohkan foto-foto yang didapatkan dari arsip negara atau militer.

Pertama, foto-foto 1965 yang berasal dari TNI umumnya menggambarkan korban sebagai pengkhianat tanpa identitas, sementara pelaku—negara, militer, dan organisasi masyarakat (ormas)—ditampilkan sebagai pahlawan yang menegakkan hukum dan ketertiban.

Kedua, menurut Geoffrey, gambar-gambar resmi mengenai 1965 hampir tidak pernah memperlihatkan kekerasan yang meluas dan ekstrem yang dilakukan oleh pelaku utama, yaitu tentara dan sekutu sipil mereka.

Ketiga, dalam banyak foto, tentara dan sekutu mereka berpose dengan bangga, seolah-olah merayakan kemenangan yang akan dinikmati oleh generasi mendatang.

“Sebaliknya, sebagian besar tahanan politik tampak putus asa, lesu, dan kalah. Mungkin karena mereka tidak melihat jalan keluar, atau mungkin karena mereka telah diperingatkan oleh tentara untuk tidak mengungkapkan emosi mereka,” jelas Geoffrey.

Potret 1965: Dari Tahanan yang Dikumpulkan Hingga Pawai PKI

Geoffrey menuturkan bahwa salah satu fotografer lokal yang menyumbangkan banyak foto tentang 1965 adalah Moelyono. Pada tahun 1960-an, Moelyono bekerja di surat kabar Kedaulatan Rakyat di Yogyakarta. Ketika peristiwa 1965 pecah, Moelyono direkrut oleh militer untuk mengambil foto-foto dalam operasi “penumpasan PKI.”

Salah satu hasil jepretan Moelyono memperlihatkan jenazah dua anak laki-laki yang tergeletak tengkurap di lumpur. Foto itu diambil saat Moelyono ikut bersama rombongan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang tengah menghabisi orang-orang “Kiri” di Jawa Tengah pada akhir tahun 1965.

Puluhan tahun setelah “tugas” tersebut, Moelyono bercerita kepada antropolog asal AS, Karen Strassler, bahwa tentara memberlakukan batasan ketat terhadap apa yang boleh ia foto dan gambar mana yang akhirnya dipublikasikan.

Yang terpenting, kata Moelyono kepada Karen, kamera tidak boleh memotret kekerasan yang dilakukan oleh tentara.

“Moelyono juga diminta untuk tidak menunjukkan wajah anggota PKI atau mereka yang terhubung dengan PKI yang sudah tewas. Hal ini cukup membantu menjelaskan posisi aneh dalam foto mayat tersebut,” papar Geoffrey.

Geoffrey dan Douglas mengakui bahwa mereka hanya menemukan sedikit foto yang menampilkan kekerasan eksplisit, seperti yang berujung pada hilangnya nyawa. Potret lokasi pembantaian massal juga tidak tersedia.

Keadaan ini terjadi karena, sekali lagi, militer memegang kendali penuh atas distribusi informasi pada tahun 1965. Secara umum, foto-foto yang dihasilkan pada periode 1965-1967 mencerminkan bagaimana militer membangun propaganda secara terstruktur melalui Pusat Penerangan Angkatan Darat.

Pesan yang ingin disampaikan kepada publik adalah penegasan betapa bengis dan jahatnya PKI beserta anggota dan simpatisannya.

“Ada satu foto yang setelah kami telusuri diambil pada [Peristiwa] Madiun 1948, ketika tentara dan PKI berkonflik. Foto korban kekerasan 1948 itu disebarluaskan lagi oleh militer Indonesia untuk membingkai bahwa PKI brutal dan pengkhianat,” jelas Geoffrey.

Sejak awal, Geoffrey melanjutkan, militer sengaja menciptakan narasi palsu tentang orang-orang “PKI.” Dan ketika tujuan itu berhasil, dalam arti publik terpengaruh secara emosi, militer segera merebut ruang kosong itu dengan menanamkan propaganda baru ke ingatan kolektif masyarakat.

“PKI itu kejam, dan tentara adalah pahlawan yang menyelamatkan [Indonesia],” imbuh Geoffrey.

Meskipun sebagian besar visual tentang 1965 dimaksudkan untuk memperkuat otoritas militer, Geoffrey dan Douglas berpendapat bahwa foto-foto yang mereka kumpulkan juga memperlihatkan—secara tidak sengaja—kekerasan sistematis terhadap orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI.

Sebagai contoh, satu foto menunjukkan seorang pejabat militer lokal berbicara di hadapan kerumunan orang di Purwodadi, Jawa Tengah. Orang-orang di dalam foto memegang senjata—bambu runcing—dan dikelilingi oleh tentara yang membawa senapan. Kerumunan tersebut merupakan bagian dari kelompok milisi yang digandeng oleh tentara untuk menumpas orang-orang komunis.

Di foto lain, ratusan orang ditempatkan di lapangan di sebuah desa di Jawa Tengah. Mereka duduk dengan posisi menunduk. Di antara mereka terdapat anak kecil dan laki-laki dewasa. Di hadapan mereka berdiri anggota milisi lokal yang menenteng bambu runcing.

Tidak jauh berbeda, foto lain menggambarkan tahanan yang dikumpulkan di balai desa di Klaten, Jawa Tengah. Di samping para tahanan, berdiri anggota militer dan masyarakat lokal yang seolah-olah mengawasi gerak-gerik mereka.

“Selain [foto kekerasan dan tahanan] itu, ada satu foto yang benar-benar menarik perhatian saya. Foto pawai PKI di Yogyakarta. Diambil sebelum [Peristiwa] 1965 [pecah],” ujar Geoffrey. “Dan foto ini juga dapat memberikan semacam refleksi atas propaganda militer terhadap PKI.”

Dalam foto yang dituturkan Geoffrey, yang diambil oleh Moelyono sekitar tahun 1965, sekelompok anak muda terlihat menikmati acara pawai yang diselenggarakan oleh PKI di alun-alun Kraton Yogyakarta. Beberapa di antara mereka menatap langsung ke arah kamera dan tertangkap sedang tersenyum.

Geoffrey menyatakan bahwa tidak semua foto berhasil dikumpulkan, seperti foto penyiksaan tahanan, kekerasan seksual, atau saat korban 1965 diangkut untuk dibantai di suatu lokasi.

Namun, sebagai seorang sejarawan, Geoffrey percaya bahwa foto-foto yang ia peroleh bersama Douglas dapat membuka bagian dari masa lalu yang selama ini disembunyikan. Foto-foto tersebut, menurut Geoffrey, memberikan analisis mengenai babak penting dalam sejarah kelam yang berjalan relatif singkat, dari tahun 1965 hingga 1967.

“Kami percaya ketika ditempatkan dalam konteks yang tepat dan dengan memperlihatkan kondisi produksinya, baik itu secara politik atau sosial, gambar-gambar ini dapat mengingatkan kita pada hal-hal yang telah diabaikan dalam narasi konvensional,” sebut Geoffrey.

Douglas berharap foto-foto yang disusun dalam Exposed mampu mengisi celah sejarah 1965 yang masih tersedia. Ia menggarisbawahi bahwa Exposed diharapkan dapat “menantang narasi resmi yang telah membentuk ingatan sosial masyarakat di Indonesia.”

“Kami menginginkan foto dan gambar ini ditempatkan dalam konteks sejarah agar kelak interpretasi baru dapat terbentuk setelah lebih dari setengah abad propaganda pemerintah bergerak [memberi pengaruh] ke masyarakat dan politik, bahkan sampai saat ini,” pungkasnya.

Ringkasan

Geoffrey Robinson dan Douglas Kammen melalui buku “Exposed: A Visual History of the Destruction of the Indonesian Left” menyajikan arsip foto dari awal 1960-an hingga 1970-an untuk menawarkan perspektif baru mengenai peristiwa kelam 1965. Buku ini bertujuan mengungkap hal-hal yang selama ini disembunyikan, memperdalam pemahaman sejarah, dan berpotensi membawa keadilan bagi para korban. Koleksi foto ini mencakup penahanan massal individu yang dituduh terafiliasi PKI di berbagai lokasi, serta potret elit politik saat itu, termasuk tokoh militer dan pemimpin PKI seperti DN Aidit.

Robinson menyoroti minimnya bukti visual lengkap tentang 1965 yang telah berkontribusi pada kesalahpahaman publik. Meskipun banyak foto dari arsip militer digunakan untuk propaganda yang menggambarkan PKI sebagai pengkhianat, buku “Exposed” menunjukkan bahwa visual tersebut secara tidak sengaja juga mengungkap kekerasan sistematis terhadap mereka yang dituduh komunis. Para penulis berharap koleksi foto ini akan menantang narasi resmi yang ada dan mendorong terbentuknya interpretasi sejarah baru mengenai tragedi 1965.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Mantan Bendahara Amphuri Diperiksa untuk yang Ketiga Kalinya di Kasus Kuota Haji

8 October 2025 - 02:19

Arkeolog Spanyol Temukan Pahatan Batu Usia 200.000 Tahun Buatan Manusia Purba

7 October 2025 - 10:11

Rangkaian Acara HUT TNI: Upacara Militer hingga Parade Alutsista

5 October 2025 - 07:46

Kemenag Akui Sejumlah Pesantren Dibangun Tanpa Prosedur Formal

4 October 2025 - 11:55

Jane Goodall Meninggal: Dunia Berduka Kehilangan Pakar Simpanse Legendaris

3 October 2025 - 01:33

Trending on Society Culture And History