Operasi plastik pada usia muda – Meningkatkan percaya diri atau memicu gangguan mental? Shin Tae-yong Dituduh Kasar, Korea Kritik Gaya Latih STY? Qatar & Arab Saudi Lolos! Klasemen Akhir Kualifikasi Piala Dunia 2026 5 Kandidat Juara Piala Dunia 2026: Siapa yang Paling Berpeluang? DJ Panda Hadapi Pemeriksaan Polisi Terkait Pengancaman Erika Carlina WEGE: Strategi Kejar Target Kontrak Baru, Realisasi Baru Rp 116 Miliar

Science

Profil Jane Goodall, Aktivis dan Pakar Simpanse yang Meninggal di Usia 91 Tahun

badge-check


					Profil Jane Goodall, Aktivis dan Pakar Simpanse yang Meninggal di Usia 91 Tahun Perbesar

Narapena – – Aktivis sekaligus peneliti simpanse terkenal, Jane Goodall meninggal dunia di usia 91 tahun pada Rabu (1/10/2025).

Kabar tersebut diumumkan oleh Jane Goodall Institute melalui sebuah unggahan Instagram pada hari yang sama.

Menurut lembaga yang berbasis di Washington DC, Amerika Serikat (AS) itu, Goodall meninggal dunia secara wajar di California saat menjalani speaking tour di AS.

Di hari kematiannya, Goodall dijadwalkan menghadiri pertemuan dengan siswa dan guru dalam rangka peresmian 5.000 pohon di sekitar zona kebakaran hutan di wilayah Los Angeles.

Juru bicara Shawna Marino mengatakan, panitia mengetahui kematiannya ketika acara akan dimulai di EF Academy di Pasadena.

“Saya rasa tidak ada cara yang lebih baik untuk menghormati warisannya selain dengan mengumpulkan seribu anak untuknya,” kata Marino, dikutip dari AP News.

Pohon pertama kemudian ditanam atas nama Goodall setelah mengheningkan cipta.

Baca juga: Kisah Pilu Simpanse yang Berduka, Gendong Sang Bayi yang Mati Selama Berbulan-bulan

Profil Jane Goodall

Dikutip dari NPR, Jane Goodall lahir di London pada 3 April 1934.

Ayahnya merupakan seorang pembalap mobil yang bergabung dengan militer pada awal Perang Dunia II.

Orangtuanya diketahui kemudian berpisah. Dan Goodall tumbuh dan besar di sebuah rumah bergaya Victoria yang sederhana di sebuah kota tepi laut di Inggris bersama ibunya, saudara perempuan, bibi, dan neneknya.

Keluarganya tidak memiliki cukup biaya untuk mengkuliahkannya.

Goodal akhirnya menempuh pendidikan sekretaris hingga pada 1956, seorang teman mengajaknya mengunjungi pertanian keluarga di Kenya.

Di sana, Goodal bekerja sebagai pelayan dan menabung untuk tiket sekali jalan.

Dia juga segera mengatur pertemuan dengan ahli paleontologi Louis Leakey.

Perempuan tanpa gelar sarjana yang baru berusia 26 tahun itu dinilai tidak ideal untuk menjadi ilmuwal tipikal pada masa itu.

Sehingga pada 1960, dia mengusulkan untuk mengirim Goodall ke tempat yang sekarang menjadi Taman Nasional Gombe Stream di Tanzania.

Baca juga: Rumor Humanzee, Bayi Manusia-Simpanse yang Diklaim Sempat Dilahirkan

Hidup di tengah simpanse

Semasa hidupnya, Goodall dikenal dengan penelitian lapangannya mengenai simpanse. Konservasionis intelektual itu kerap melakukan liputan yang mendalam.

Dia mendokumentasikan kepribadian simpanse yang unik. Dokumentasinya diyakini hanya dilakukan oleh dirinya sendiri.

Kemunculannya kali pertama di majalah dan beberapa film dokumenter pada 1960-an langsung mengubah cara pandang dunia.

Saat kali pertama mempelajari simpanse di Tanzania, Goodall dikenal karena pendekatannya yang tidak konvensional.

Dia tidak hanya mengamati hewan tersebut dari jauh, tetapi juga mendalami setiap aspek kehidupan mereka.

Goodall tampak beberapa kali memberi hewan-hewan itu makan dan menamainya.

Hasil penelitiannya kemudian disebarkan ke jutaan orang ketika ia pertama kali muncul di sampul National Geographic pada 1963.

Kumpulan foto Goodall di lapangan membuatnya terkenal. Salah satu foto ikonik menunjukkan dirinya berjongkok di hadapan bayi simpanse bernama Flint. Masing-masing tangan terentang, saling meraih.

Hasil penelitiannya tidak hanya menunjukkan bahwa kerabat biologis terdekat manusia yang masih hidup, tetapi juga kompleksitas emosional dan sosial semua hewan, sekaligus mendorongnya ke dalam kesadaran publik.

Goodall juga pernah tinggal bersama dengan simpanse di Afrika beberapa dekade lalu.

Di masa tuanya, Goodall masih senantiasa mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan advokasi isu-isu kemanusiaan serta perlindungan alam.

Dengan akses Inggrisnya, dia dikenal karena menyeimbangkan kenyataan pahit krisis iklim dengan pesan harapan yang tulus untuk masa depan.

Baca juga: Benarkah Nenek Moyang Manusia Berayun di Pohon dan Berjalan seperti Simpanse?

Temuannya mengubah sains

Ahli primata Universitas St. Andrews Catherine Hobaiter yang juga mempelajari simpanse mengatakan, temuan-temuan Goodall mengubah pandangannya tentang sains.

“Ini adalah pertama kalinya sebagai ilmuwan muda yang bekerja dengan kera liar dan simpanse liar, saya mendengar bahwa merasakan sesuatu itu boleh saja,” kata dia.

Berkat temuannya itu, Goodall meraih penghargaan sipil tertinggi dari sejumlah negara. Ia dianugerahi Presidential Medal of Freedom pada 2025 oleh presiden AS saat itu, Joe Biden.

Pada 2021, Goodall memenangkan Templeton Prize yang bergengsi, sebuah penghargaan bagi individu yang karyanya merupakan perpaduan antara sains dan spiritualitas.

Humane World for Animals mengatakan bahwa pengaruh Goodall pada komunitas perlindungan hewan tidak terukur nilainya.

“Karya beliau bagi primata dan semua hewan tidak akan pernah dilupakan,” kata Kitty Block, presiden dan CEO kelompok yang sebelumnya bernama Humane Society of the United States dan Humane Society International.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read More

Cengkeh Lampung Tercemar Radioaktif: Ancaman Serius Bagi Petani?

13 October 2025 - 20:35

Apa yang Terjadi Saat Meteor Jatuh ke Bumi Seperti di Cirebon? Ini Penjelasan BRIN

7 October 2025 - 03:27

Analisis BMKG soal Gempa 5,3 M di Waropen, Catat Satu Kali Gempa Susulan

4 October 2025 - 00:17

Setelah M6,0 di Sumenep, Gempa M6,1 Terjadi di Maluku Barat Daya

2 October 2025 - 07:56

Ini Hasil Investigasi Kasus Udang yang Terpapar Radioaktif

1 October 2025 - 01:11

Trending on Science