
Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) kini tengah menghadapi badai besar. Komite Disiplin FIFA secara resmi telah menjatuhkan sanksi berat menyusul kasus dugaan pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain. Keputusan ini memicu berbagai reaksi, dengan sebagian warga Malaysia menuding adanya campur tangan pihak luar, termasuk Indonesia. Menanggapi tudingan tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) RI sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dengan tegas membantahnya.
Pengumuman dari FIFA pada Jumat (26/9) menegaskan bahwa FAM terbukti melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA terkait pemalsuan dokumen. Ketujuh pemain yang menjadi sorotan dalam proses naturalisasi FAM adalah Facundo Garces, Jon Irazabal, Hector Hevel, Joao Figueiredo, Imanol Machuca, Rodrigo Holgado, dan Gabriel Palmero.
Tudingan keterlibatan Indonesia dalam sanksi FIFA terhadap Malaysia ini pertama kali dilontarkan oleh Putra Mahkota Johor yang juga merupakan bos klub JDT, Tunku Ismail Idris. Salah satu dasar tudingannya adalah adanya pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Namun, Erick Thohir dengan lugas menepis segala dugaan tersebut. Ia menegaskan bahwa Indonesia sama sekali tidak memiliki kaitan dengan sanksi yang diterima FAM. Lebih lanjut, Erick Thohir memastikan bahwa arah kebijakan olahraga nasional Indonesia sepenuhnya terfokus pada pembangunan prestasi olahraga, bukan pada urusan internal negara lain.

“Saya ingin menyampaikan bahwa Presiden (Prabowo Subianto) sudah mengeluarkan Perpres Nomor 12 Tahun 2025, RPJMN 2025–2029. Bapak Presiden ingin standardisasi organisasi olahraga Indonesia itu skala internasional. Artinya apa? Bagaimana semua punya KPI, tolak ukur yang jelas, dan jangan sampai atlet menjadi korban. Ini standar yang dilakukan Bapak Presiden,” ujar Erick Thohir kepada para wartawan seusai rapat kerja di Kompleks Parlemen Republik Indonesia, Senin (29/9).
Erick Thohir juga merinci agenda pembicaraan antara Presiden Prabowo dan Presiden FIFA Gianni Infantino. “Pembicaraan Bapak Presiden dengan Presiden Gianni (Infantino, Presiden FIFA) jelas, Bapak Presiden bicara mengenai sepak bola Indonesia, tidak bicara mengenai negara lain. Salah satunya bagaimana FIFA Academy bisa ada di Indonesia, dan FIFA juga mendorong kejuaraan dunia U-15 dengan sistem baru 8 vs 8.” Hal ini semakin memperjelas fokus pembicaraan yang murni untuk kemajuan sepak bola Indonesia.
Menambahkan pernyataannya, Erick Thohir menekankan pentingnya sikap saling menghargai. “Jadi pembicaraan Presiden seperti itu. Lalu kami sendiri dari Menpora atau saya pribadi, kita tentu harus menghargai semua negara di Asia Tenggara ketika ingin olahraganya maju. Kita harus hargai,” tegasnya.
Sebagai dampak dari pelanggaran tersebut, FAM dijatuhi denda sebesar 350.000 CHF, yang setara dengan Rp 7 miliar. Sementara itu, ketujuh pemain naturalisasi Malaysia yang terlibat dilarang beraktivitas dalam kancah sepak bola selama 12 bulan, baik di level nasional maupun internasional, serta akan dikenai denda sebesar 2.000 CHF atau sekitar Rp 41 juta per pemain.
Mengakhiri pernyataannya, Erick Thohir kembali menegaskan komitmen Indonesia terhadap pembangunan olahraga nasional tanpa intervensi. “Kami tentu harus menghargai semua negara di Asia Tenggara ketika ingin olahraganya maju. Tapi mohon maaf, kalau kami di Indonesia ingin olahraganya maju, ingin sepak bolanya bagus, bulutangkisnya bagus, pencak silatnya mendunia, ya kami harus lakukan itu. Tapi kami tidak intervensi, tidak ikut campur isu-isu negara lain,” pungkasnya.
Penulis: Kevin Siadari
Ringkasan
Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) dijatuhi sanksi berat oleh Komite Disiplin FIFA terkait dugaan pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain. Keputusan ini memicu tudingan dari pihak Malaysia, termasuk Putra Mahkota Johor, bahwa Indonesia terlibat, mengacu pada pertemuan Presiden Prabowo Subianto dengan Presiden FIFA Gianni Infantino.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, dengan tegas membantah keterlibatan Indonesia, menegaskan fokus kebijakan olahraga nasional adalah pembangunan prestasi, bukan intervensi urusan negara lain. Ia menjelaskan bahwa pembicaraan Presiden Prabowo dengan Presiden FIFA murni membahas kemajuan sepak bola Indonesia. Sebagai konsekuensi, FAM dikenai denda 350.000 CHF, dan ketujuh pemain terlibat dilarang beraktivitas selama 12 bulan serta denda 2.000 CHF per pemain.









